Carrick: Tenggelam Dalam Hingar Bingar, Abadi Dalam Ingatan

2.562

 

Bagi yang pernah membaca serial Harry Potter atau menonton filmnya, tidak akan asing dengan kata-kata; “You-Know-Who” atau “He-Who-Must-Not-Be-Named”. Ungkapan tersebut disematkan kepada musuh utama dalam serial tersebut, Lord Voldemort. Karena saking diseganinya tokoh yang satu ini, seseorang butuh nyali besar hanya untuk menyebutkan namanya.

Voldemort, seorang tokoh fiksi dengan kekuatan yang luar biasa kuat, cerdas dan tanpa ampun. Ia dikenal sebagai salah satu “Legilimens” terbaik yang pernah ada, seorang yang ahli membaca dan mempenetrasi pikiran seseorang. Dumbledore—kepala sekolah Hogwarts sekaligus mantan guru Voldemort—bahkan mengakui bahwa Voldemort adalah salah satu pelajar paling brilian yang pernah ia ajar. Sama seperti tokoh-tokoh antagonis pada umumnya, kelemahan Voldemort adalah tidak ada empati dan gagal merasakan cinta.

Amazon Images

Jika mau jujur, tidak ada hubungan yang masuk akal antara Voldemort dengan tulisan bertema sepakbola ini. Kalau memang tidak menemukan hubungannya sama sekali, anggaplah ini sebuah tulisan ‘cocoklogi’. Tulisan ini juga tidak akan membahas mengenai analisis, statistik atau hal-hal teknis lainnya. Sudah cukup sebulan penuh dijejali banyak tulisan mengenai piala dunia. Saatnya melemaskan otot, saya hanya ingin sedikit bernostalgia. Sembari mengajak merasakan romantisme sepakbola dalam sebuah tulisan.

Di tulisan ini saya hanya ingin sedikit bercerita, mengenai seorang pesepakbola yang merubah sudut pandang saya pada permainan yang senang saya mainkan sedari kecil ini. Jika pertanyaan “siapa pemain sepakbola favoritmu?” ditanyakan, tentu jawabannya akan beragam, tapi kita bisa mengira-ngira nama mana yang akan paling banyak disebutkan.

Tenggelam Dalam Hingar Bingar, Abadi Dalam Ingatan

Tidak pernah ada pemain yang benar-benar menjadi pemain yang saya sukai, kecuali Ronaldinho—seorang seniman, pemain terbaik sepanjang masa, dan seorang yang bermain sepakbola dengan ‘jujur’. Sayang, begitu saya mulai benar-benar menyukai olahraga ini, Ronaldinho sudah melewatkan puncak permainannya. Setelah itu? Tidak ada. Sekalipun banyak pemain bola yang permainannya hebat, ‘mencolok’ dan membuat banyak orang terkagum-kagum. Kecuali satu nama lain, yaitu Michael Carrick, seorang yang mengajarkan saya melihat indahnya sepakbola dari sudut pandang yang berbeda. Tidak lagi melulu soal ‘gocekan’, trik, ataupun tendangan halilintar.

Carrick adalah seorang gelandang bertahan atau tepatnya deep-lying midfielder, peran yang tidak terlalu bergantung pada kecepatan, stamina, ataupun aspek fisik lainnya. Meskipun tidak bergantung pada hal-hal tadi, ada satu hal yang bisa memaksimalkan potensi fisik yang minim tadi, yaitu intelegensi bermain dalam membaca permainan. Ketenangan, kemampuan distribusi bola, intersep, dan visi bermain yang baik, meng-cover area kosong dan mengatur tempo permainan, menjadi ciri khas seorang Carrick.

Bukan tanpa resiko gaya main yang diperagakan Carrick, karena permainannya yang kurang ‘menggigit’, membuatnya kurang diperhatikan di Tim Nasional Inggris, melihat ada nama-nama dengan gaya bermain yang berbeda dengannya bermain, sebut saja Frank Lampard dan Steven Gerrard. Dua pemain hebat yang gagal unjuk gigi di panggung internasional.

Ross Kinnaird/Getty Images

Untung saja Sir Alex Ferguson paham betul dengan apa yang harus dilakukan dengan Michael Carrick. Bagaimana mengeluarkan potensi terbaiknya. One man’s loss is another man’s gain, kata sebuah pepatah. Kehilangan bagi Timnas Inggris adalah berkah bagi Manchester United. Bertandem dengan Paul Scholes, keduanya menjadi tulang punggung lini tengah Manchester United selama bertahun-tahun.

Terlepas dari rentetan gelar yang ia raih, namanya tetap di luar jangkauan deteksi ‘radar’. Ia tidak pernah mengeluh, juga tidak pernah mengklaim bahwa ia salah satu yang terbaik di posisinya. Kerendahan hatinya hanya tahu kalau ia hanya perlu bermain bola, biarkan permainannya yang menjelaskan. Bahkan, seorang Pep Guardiola menyebutkan bahwa Carrick berada di level yang sama dengan Busquets dan Xabi Alonso.

Alex Livesey/Getty Images

Ada banyak orang yang menganggap Carrick biasa-biasa saja. Memang, ia bukanlah pemain yang membawa perubahan mencolok atau mampu memenangkan pertandingan seorang diri. Luangkan sedikit waktu membaca kutipan-kutipan mengenai Michael Carrick, maka perlahan-lahan kita akan mengerti.

Sepakbola tidak selalu rumit. Bermain sederhana malah terkadang sulit dilakukan kebanyakan pemain. Seperti yang dikatakan Johan Cruyff, “Sepakbola itu sederhana, tapi bermain sederhana dalam sepakbola adalah hal yang sulit”. Carrick salah satu pemain yang bisa melakukannya.

Pemain bertahan tidak pernah panik mengetahui ada Carrick di depan mereka, cukup berikan bola padanya, makanya Carrick akan mengurus sisanya. Carrick tidak pernah panik, rasanya ia selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ketenangannya dalam memegang bola, sulit disamain pemain manapun di Liga Inggris, sekalipun melawan musuh yang memainkan sepakbola yang agresif dan menekan. Tidak heran ia disebut seperti piano ataupun Rolls Royce.

Alex Livesey/Getty Images

Salah satu pencapaian lainnya ialah Carrick bisa gantung sepatu di Manchester United. Hal yang terakhir kali hanya bisa dilakukan oleh nama-nama besar seperti; Ryan Giggs, Paul Scholes, Van Der Sar dan Gary Neville. Berada di puncak permainan untuk waktu yang lama bukanlah hal yang mudah, apalagi bertahan sampai pensiun di klub sebesar Manchester United. Buktinya, sebut saja pemain sekaliber Rooney, Evra, Ferdinand, dan Vidic harus angkat kaki dari Old Trafford karena menurunnya kualitas permainan yang ditampilkan.

Musim kemarin menjadi musim terakhirnya sebagai pemain Manchester United setelah bermain selama 12 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, Carrick juga sibuk mengejar lisensi kepelatihan, musim depan ia siap diuji kontribusinya dari luar lapangan setelah bergabung dengan staf kepelatihan Jose Mourinho. Kita berharap, ia bisa menyumbangkan ide-ide positif terhadap gaya bermain Manchester United musim depan. Karena, bisa dibilang ialah orang yang paling mengerti Manchester United saat ini luar dalam, baik sebagai pemain maupun supporter. Dengan otaknya yang brilian, kita bisa melihat ada sosok pelatih hebat masa depan sedang dalam proses pembentukkan.

Barangkali banyak yang lupa atau tidak sempat menikmati permainannya, percayalah, kalian melewatkan sepakbola indah dari seorang pesepakbola jenius. Sebentar lagi ia akan menginjak usia 37 tahun, tidak ada salahnya menghargainya sekali lagi. Seorang legenda. Seorang yang rendah hati. Seorang pemain, yang seringkali dilewatkan dan terlupakan dalam deretan nama besar gelandang-gelandang terbaik di generasinya.

Clive Brunskill/Getty Images

Carrick tidak memiliki kemampuan dan ego yang cukup besar seperti Voldemort untuk dikenali. Makanya jika Voldemort sering disebut “You-Know-Who” atau “He-Who-Must-Not-Be-Named”. Carrick akan saya sebut “The-Man-Whose-Name-Is-Barely-Spoken” atau “Pria-Yang-Namanya-Jarang-Dibicarakan”. Satu persamaan dan satu perbedaan mencolok dari keduanya. Voldemort dan Carrick sama-sama penyihir, yang satu dalam dunia magis satu lagi dalam sepakbola. Bedanya, Voldemort palsu, sedangkan Carrick itu nyata.

It’s Carrick you know. Hard to believe it’s not Scholes!

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya

Komentar ditutup.