I Nerazzurri, Sang Ular Besar telah Kembali

Terasa sedikit hambar ketika tidak adanya para tim "langganan" di Liga Champions, dan kali ini tim "lawas" mulai perlahan kembali di kompetisi Liga Champions.

7.407

Inter Milan akhirnya kembali bermain di kompetisi Eropa liga Champions. I Nerazzurri sempat “tertidur” selama 4 – 5 tahun di kompetisi Eropa khususnya liga champions. Setelah memperoleh treble winner mayor tahun 2010, Inter Milan tidak dapat mempertahankan titlenya dan justru makin terpuruk. Puncak keterpurukan adalah kala tidak bermain di kompetisi Eropa dan terlilit hutang hingga embargo larangan mendatangkan pemain oleh FFP.

Sebuah Mimpi dari I Nerazzurri

Perkenalan Jose Mourinho di publik

Musim 2009 – 2010 adalah musim keemasan bagi La Beneamata (julukan Inter Milan). Inter menjadi pahlawan liga italia dengan menjadi juara di tiga kompetisi mayor sekaligus, yaitu serie A, Coppa, & liga champions. La Beneamata mengawali kesuksesan ketika Inter tukar tambah antara Samuel Eto’o (Barcelona) dengan Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan). Tukar tambah tersebut membuahkan hasil, Inter berhasil menjadi juara setelah meraih total poin 82 di liga domestik Italia. Bahkan, Inter di musim ini dapat mengalahkan raksasa Eropa lainnya seperti Barcelona, Chelsea, dan Bayern Munchen di liga Champions. Kala itu, Inter hanya mengalami kekalahan di partai final supercoppa Italiana oleh SS Lazio.

Jose Mourinho mengangkat Piala Champions usai mengalahkan Bayern Munchen(Photo by Shaun Botterill/Getty Images)

II Biscione (julukan Inter Milan) yang saat itu dilatih Jose Mourinho menjadi klub terbanyak dibicarakan di dunia khususnya Eropa. Inter Milan berhasil mengangkat keterpurukan liga Italia yang sebelumnya dipandang “kotor” karena kasus Calciopoli 2006. Bahkan, dengan treble winner tersebut, Inter menjadi klub Italia pertama yang memenangkan treble winner mayor di negeri pizza tersebut.

Jose Mourinho, Treble Winner, & I Nerazzurri

Setelah memenangkan treble winner, Inter tidak dapat mempertahankan hal tersebut & justru perlahan performa apik mulai memudar. Inter seperti terjebak dalam euforia 2010 dan melupakan kenyataan di musim berikutnya. Akan tetapi, kemunduran Inter terlihat jelas ketika mereka “tidak siap” dengan mundurnya Jose Mourinho dari kursi pelatih Inter Milan.

Javier Zanetti bersama Inter melawan Bayern Munchen di Santiago Bernabeu Madrid, Spanyol. (Photo by Jasper Juinen/Getty Images)

Setelah ditinggalkan oleh Jose Mourinho, Inter akhirnya merekrut mantan pelatih Liverpool yaitu Rafael Benitez. Akan tetapi, Rafa (Julukan Rafael Benitez) tidak bertahan lama di Inter. Rafa hanya bertahan beberapa bulan lalu digantikan oleh Leonardo. Meskipun di musim tersebut sering berganti pelatih, tetapi Inter masih bertahan di papan atas Serie A. Inter berada di peringkat 2 klasemen Serie A, memenangkan Piala dunia antar klub, Coppa Italia, dan Supercoppa Italiana.

I Nerazzurri Adalah Kapal Tanpa Nahkoda

Marco Materazzi (kiri) dan Rui Costa (kanan) melihat hujan flare dilapangan ketika pertandingan UEFA Champions League leg kedua pada tanggal 12 April 2005. (Photo by Mike Hewitt/Getty Images)

Setelah sepeninggalan Jose Mourinho, Inter layaknya kapal tanpa nahkoda. Inter tidak dapat mencari suksesor Jose Mourinho yang tepat. Leonardo yang saat itu menjadi manajer akhirnya didepak oleh manajemen dan mencari sang nahkoda baru. Inter akhirnya menggantikan Leonardo dengan merekrut mantan pelatih Genoa, yaitu Gian Piero Gasperini untuk musim 2011-12. Namun, pergantian pelatih tersebut tidak dapat melanjutkan performa apik sepeninggalan Jose Mourinho. Bahkan, Inter akhirnya memecat Leonardo dan mengganti manajer kembali, dimulai dari Claudio Ranieri hingga Andrea Stramaccioni.

Pergantian pelatih demi pelatih secara tidak langsung telah mempengaruhi mental para pemain Inter Milan. Hal tersebut terlihat dengan terlemparnya Inter dari liga Champions di babak 16 besar dan Inter hanya mampu menempati peringkat 6 di Serie A. Setelah penurunan performa Inter Milan di musim 2011-12, akhirnya Inter bermain di kompetisi kasta kedua Eropa, yaitu liga Eropa di musim 2012-13.

I Nerazzurri Layaknya Bola Lampu Tua

Pada musim 2012-13, Inter Milan tidak seperti yang dikenal banyak Interisti (Julukan pendukung Inter Milan). Performa I Nerazzurri pada musim 2012-13 sangat berbeda dengan Inter Milan tahun 2009-10. Inter layaknya bola lampu yang mulai meredup, perlahan tapi pasti bahwa inter telah kehilangan kekuatannya. Bahkan, Inter Milan hanya dapat mencatatkan 16 kemenangan dari 38 laga dan menempati peringkat 9 di klasemen lalu keluar dari liga kasta kedua Eropa, yaitu Liga Eropa di babak 16 besar.

Erick Thohir pada tahun 2014. (Photo by Claudio Villa/Getty Images)

Inter Milan semakin terpuruk, hingga akhirnya Erick Thohir membeli mayoritas saham Inter Milan pada 15 November 2013. Setelah memiliki owner baru, Inter sedikit menjadi lebih baik. Inter Milan mengganti Stramaccioni dengan Walter Mazzarri di kursi kepelatihan. Dengan owner & manajer baru, akhirnya Inter dapat merangkak dari posisi 9 pada klasemen sebelumnya dan menjadi peringkat 5 pada musim berikutnya.

I Nerazzurri Hanyalah Klub Medioker

Nama Inter Milan di belahan dunia semakin menghilang. Liga Champions bukan lagi rutinitas, menjadi bagian di kompetisi Liga “kasta kedua” Eropa saja masih menjadi mimpi. Liga Champions tidak diisi oleh AC Milan ataupun Inter Milan kembali, melainkan diisi oleh “bocah ingusan” seperti PSG ataupun Manchester City. Bahkan, Inter layaknya klub medioker yang tidak pernah bermain ataupun menjuarai Liga Champions.

#DerbyMilano

Inter Milan seakan – akan hanyalah klub penghibur di liga Italia. Tidak ada lagi persaingan sengit dipapan atas antara AC Milan ataupun Inter Milan. Bahkan, Italia menjadi tempat “permainan” monopoli Juventus selama kurang lebih 7 tahun berturut – turut. Inter Milan ataupun AC Milan tidak lagi bersaing di klasemen, melainkan bersaing siapa tercepat yang melunasi hutang demi menghindari FFP. Inter Milan layaknya sebuah legenda yang hanya dapat dikenang tanpa dapat kembali lagi.

I Nerazzurri Adalah Cerita Rakyat yang Nyata

Tahun 2013 hingga tahun 2017 adalah musim paceklik bagi Inter Milan dan Interisti. Tidak ada yang menduga jika Inter akan lenyap dari kompetisi Eropa tidak lama setelah memenangkan treble winner. Inter Milan bahkan menghilang dari radar bursa pengikut liga Champions dan pemenang liga Champions. Dari pelatih seumur jagung hingga terlilit FFP, Inter Milan benar-benar dalam masalah serius. Inter Milan hampir menjadi klub yang benar-benar medioker dan dilupakan.

Luciano Spalletti manajer Inter Milan. (Photo credit should read MIGUEL MEDINA/AFP/Getty Images)

Titik balik Inter Milan adalah ketika mendatangkan seseorang yang tepat, yaitu dengan mendatangkan Luciano Spalletti. Inter Milan benar-benar tepat untuk mencari suksesor Jose Mourinho. Terlebih, Inter Milan telah memiliki seorang “ksatria” sejak 2013 yang dapat melancarkan strategi Luciano Spalletti, yaitu Mauro Emanuel Icardi.

Maurito Setengah Nyawa dari I Nerazzurri
Mauro Icardi bersama Inter melawan Atalanta tahun 2017. (Foto : Emilio Andreoli/GettyImages)

Icardi memiliki peran yang cukup besar di Inter Milan. Icardi telah mendapatkan 2 kali Cappocannoniere (Nama piala top score liga Italia) di Inter Milan. Ia telah mencetak 100 gol di Inter Milan. Layaknya sang ksatria yang menolong kerajaan, Icardi telah menyelamatkan dan mengembalikan Inter Milan ke dalam persaingan klasemen serie A. Inter Milan mungkin saat itu sedang krisis beberapa hal, tetapi hal itu terbayarkan dengan produktifitas gol Maurito (panggilan akrab Mauro Icardi).

“Juventus salah satu tim favorit saya untuk mencetak gol”

Mauro Emanuel Icardi

Icardi didatangkan dari Sampdoria dengan status wonderkid yang “langganan” membobol gawang Juventus. Ia setidaknya telah membobol 3 kali dalam 2 kali pertemuan ke gawang Juventus bersama Sampdoria dan mencetak 7 gol dari 8 pertemuan bersama Inter.

Liga Champions, I Nerazzurri Telah Bangun!

Inter Milan menjalani perjalanan yang dramatis untuk kembali ke liga Champions, dengan menyingkirkan SS Lazio pada pertandingan terakhir, akhirnya Inter Milan dapat kembali pada jalan yang seharusnya.

Para pemain Inter Milan yang menyambut kembalinya Inter Milan di liga Champions setelah mengalahkan SS Lazio. (Source : eurosport)

Dengan strategi Luciano Spalletti dan produktifitas gol Mauro Icardi, Inter Milan akhirnya memulai kembali lembar perjalanan di kompetisi Eropa. Semangat bangkit I Nerazzurri dari keterpurukan yang panjang akhirnya tidak sia-sia. Inter Milan menunjukan bahwa II Biscione bukanlah klub medioker ataupun klub yang hanya membanggakan sejarah. Inter Milan saat ini hanya perlu memperbaiki beberapa lini agar dapat “berbicara” kembali di level Eropa.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Komentar ditutup.