Kehebatan City Hanyalah Déjà Vu Era Fergie

4.420

Penentuan Juara Berada Di Tangan Klub Duo Manchester

Penentuan juara berada di tangan klub duo Manchester, City dan United. Meskipun mustahil untuk bisa merebut singgasana dari Manchester City. Setidaknya Manchester United bisa menunda perayaan gelar tetangga mereka sedikit lebih lama.

Empat. Manchester City hanya membutuhkan empat kemenangan lagi untuk keluar sebagai juara Liga Primer Inggris musim ini. Meninggalkan banyak pesaingnya dengan jarak yang sangat lebar.

Shaun Botterill/Getty Images

Manchester City memimpin dengan 78 poin dari 29 laga. Di posisi dua ada Liverpool dengan 60 poin dan Manchester United di posisi ketiga dengan 59 poin dan satu laga yang belum dimainkan.

Malam tadi, Chelsea baru saja ‘diajarkan’ bagaimana cara bermain sepakbola oleh City. Chelsea dibuat mematung sepanjang pertandingan. Permain bola-bola pendek Manchester City membuat para pemain Chelsea mati kutu. Conte lebih memilih memainkan sepakbola pasif dan memanfaatkan serangan balik, yang sayangnya tidak berjalan dengan baik.

Laurence Griffiths/Getty Images

Apa ada hal yang lebih buruk dari apa yang baru dialami Chelsea semalam? Ada, dan itu ada hubungannya dengan Manchester United.

Dengan keunggulan 18 poin dari peringkat kedua (atau 16 poin jika United bisa menang melawan Crystal Palace malam nanti). Secara matematika, City hanya membutuhkan empat kemenangan lagi untuk bisa mengunci gelar juara (bisa kurang seandainya pesaing terdekat gagal mengoleksi poin penuh).

Dengan anggapan United menang melawan Palace malam nanti, maka City unggul 16 poin dengan sisa 9 pertandingan lagi. Seandainya 3 pertandingan selanjutnya berhasil dimenangkan City dan United. City hanya membutuhkan 3 poin untuk mengunci gelar.

Siapa lawan yang bisa menyaksikan City mengangkat piala di rumahnya? Manchester United. Tepat empat pertandingan lagi, 7 April di Etihad, City akan menjamu United.

Clive Brunskill/Getty Images

Saya hanya akan mengambil dua skenario. City atau United yang menang.

Bagi City, kemenangan nanti merupakan penegasan bahwa siapa tim terbaik di Manchester (untuk saat ini). Bagi United, kemenangan menunjukan sikap mempertahankan harga diri agar tidak dipermalukan karena melihat tetangga mengangkat piala.

“Boleh saja kalian juara tahun ini, tapi tidak dihadapan kami!” Semangat yang harus dimiliki Manchester United saat menghadapi City nanti.

Faktor Kehebatan City Musim Ini? Salah Satunya Adalah Uang

Jika ada yang mengatakan City bisa mendominasi tahun ini hanya karena sokongan uang, itu adalah sebuah kebenaran. Sokongan dana yang besar ditambah seorang jenius sebagai juru taktik adalah kebenaran lain yang sebaiknya tidak ditutup-tutupi.

Robbie Jay Barratt – AMA/Getty Images

Sistem yang ditampilkan Manchester City sekarang, harus diakui dengan pahit – apalagi saya seorang yang mendukung Manchester United, adalah permainan yang boleh jadi diidam-idamkan pendukung tim sepakbola manapun.

Mendominasi lawan dengan penguasaan bola yang tinggi. Permainan bola dari kaki ke kaki yang sangat mulus. Cara membangun serangan yang seringkali melibatkan penjaga gawang dan lini pertahanan adalah sebuah seni.

Maka tidak heran jika banyak pelatih yang akan menghadapi City saat ini dibuat pusing karena harus memutar otak, memikirkan cara yang tepat agar anak asuhnya bisa mencuri poin. Pahit-pahitnya, agar tidak terlalu dipermalukan di lapangan dengan skor akhir yang mencolok.

Miris memang, pelatih sekaliber Pep Guardiola membutuhkan setengah triliun poundsterling hanya untuk menegaskan diri sebagai tim terbaik di Liga Inggris.

Déjà Vu Era Fergie

Kondisi yang dialami Manchester United yang mencoba bangkit setelah beberapa tahun yang buruk, bisa dibilang pernah terjadi ketika Fergie masih melatih.

Laurence Griffiths/Getty Images

Semuanya terjadi di awal tahun 2000an dan mimpi buruk itu tepatnya dimulai di musim 2003/2004. Musim itu United mengawali musim berstatus sebagai juara bertahan. Apa daya, di akhir musim Arsenal yang keluar sebagai juara dengan The Invicibles-nya bersamaan dengan trofi emasnya yang membedakan dengan juara-juara lainnya.

Manchester United mencoba bangkit musim berikutnya. Sial, muncul anak baru bernama Jose Mourinho yang dengan pedenya mendeklarasikan diri sebagai ‘The Special One’, yang musim sebelumnya berhasil membawa Porto juara Liga Champions.

Independent

Saya teringat apa yang Fergie tuliskan di bukunya mengenai Mourinho di musim pertamanya.

“Dia bisa melatih di mana saja, tentu saja. Saya tidak akan meramal apapun tentang apa yang akan terjadi dengan klub ini. Saya tidak akan bertahan selamanya, tapi Jose bisa melatih di mana saja, tidak ada keraguan soal itu.

“Sama sekali tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya bahwa seseorang yang tidak pernah bermain bisa menjadi pelatih hebat sampai saya melihat kepribadiannya. Dia memiliki kepribadian yang hebat, kuat dan itu yang menjembatani kekosongan tadi.

“Saya mengingat konfrensi pers pertamanya (di Chelsea, 2004) dan saya berpikir ‘Ya Tuhan, dia seorang bajingan arogan.’ Dia berkata: ‘Lihat, saya the special one, kita tidak akan kalah’. Omong kosong, datang ke Inggris, saat itu dia masihlah pria muda dan dia berkata dialah yang spesial! Tapi itu memberi pesan kepada para pemainnya bahwa mereka yakin akan memenangkan liga.”

Apa persamaan City sekarang dengan musim debut Mourinho di Chelsea? Ya, uang dan seorang pelatih jenius. Saat itu Mourinho datang ke Chelsea didukung dengan kekuatan finansial yang kuat seiring dengan kedatangan bos baru, Roman Abramovich.

Fergie dengan dinasti Manchester United-nya yang hebat harus ‘rela’ digoyahkan oleh kedatangan orang asing yang banyak omong. United tidak memenangkan liga selama tiga musim, sebelum kembali juara di musim 2006-2007.

Alex Livesey/Getty Images

Fergie tahu, apa yang dibangun dengan uang tidak akan bertahan lama. Pengalaman, kesabaran dan mental juaranya, kembali membawa United berjaya di tanah Inggris.

Déjà Vu City Dan Kondisi Sepakbola Modern

Situasi sama lebih dari satu dekade silam itu, terulang kembali. Kali ini terjadi di zaman sepakbola modern. Di mana hampir semua tim menggunakan uang untuk mencapai kejayaan.

Bohong jika ada yang berkata United saat ini tidak mengandalkan uang untuk bersaing. Sekelas Barcelona, Real Madrid, Bayern dan tim besar lainnya saja tidak berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang yang besar, apalagi City.

Francois Nel/Getty Images

Bedanya, United dan City memiliki sumber yang berbanding terbalik. Aliran dana city diperoleh dari monopoli bisnis sang pemilik klub, Sheikh Mansour. Sedangkan United, keluarga Glazer sangat tidak bisa diandalkan. Mereka yang ada hanya memanfaatkan United untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa banyak berpikir soal keadaan klub itu sendiri.

Beruntung, dari dulu pengelolaan bisnis klub United merupakah salah satu yang terbaik di dunia. Era Fergie ada David Gill, sekarang ada Ed Woodward yang tidak kalah cerdiknya mengelola nama besar Manchester United.

Michael Regan/Getty Images

Jika masih kurang yakin, Wenger mengutarakan pendapatnya mengenai keuangan United beberapa waktu lalu (ketika United mendekati Sanchez.

“Saya menghargai Manchester United karena mereka menghasilkan uang untuk membayar pemain dengan sumber daya mereka sendiri. Kalian harus menghargai itu. Setelah itu, terserah mereka berapa banyak yang ingin mereka berikan kepada pemain.

“Manchester United adalah klub yang dikelola dengan sangat baik secara finansial dan juga di lapangan. Itulah kenapa saya tidak punya masalah dengan uang yang mereka keluarkan.” Seperti dikutip Independent.

Satu Nama Yang Bisa Menghentikan Dominasi City

Satu hal yang patut disesali adalah gagalnya Jose Mourinho mendapatkan semua pemain incarannya di bursa transfer musim panas kemarin. Hal ini membuat Mou harus kembali memutar otak agar tim ini bisa maksimal.

Bandingkan dengan Pep dan jajaran pemain bintang yang didatangkannya.

Siapa yang membuat seorang Fergie tidak bisa tidur karena dominasi Manchester United di Liga Inggris tergoyahkan? Tak lain dan tak bukan ialah manajer Manchester United saat ini, Jose Mourinho.

Michael Steele/Getty Images

Sekarang apa yang dialami Fergie satu dekade silam, dialami Jose Mourinho. Dialah yang membuat Fergie gelisah pada saat itu, sekarang ia merasakan bagaimana rasanya ada ‘orang baru’ di liga dengan kekuatan finansial yang nyaris tidak terbatas dan mengganggu usahanya untuk mengembalikan Manchester United ke masa jayanya.

Maka dari itu saya masih percaya kepada seorang Jose, dialah yang mengerti klub ini baik sebagai lawan maupun bagian darinya. Dialah yang mengerti liga ini dibanding manajer-manajer lain.

Dengan pengalamannya seharusnya dia paham bagaimana klub dengan kekuatan uang segudang bisa goyah, pengalaman pahitnya dulu harus ia ubah menjadi visi bermain yang brilian.

Dia membawa perubahan positif ke dalam klub dibanding dua manajer sebelumnya. Meskipun saya akui, dari peringkat enam ke posisi empat besar bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Manchester United bukanlah klub yang hanya puas bertengger di posisi dua klasemen apalagi di bawahnya. Ada DNA juara mengalir dalam klub ini.

Sementara ini City boleh jadi menguasai liga dengan sistemnya yang hebat. Tidak lama lagi, saya yakin United akan berada di mana City berada sekarang. Apalagi dengan kepribadian Pep yang ‘mudah bosan’ dengan suatu liga.

Jawaban untuk pertanyaan siapa yang bisa menghentikan dominasi City saat ini, bukanlah Klopp, bukan Conte, bukan Pochettino apalagi Wenger. Hanya Jose Mourinho.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya

Komentar ditutup.