Suara Bising Itu Segera Berakhir

2.168

Ingatan Dari Pendukung Rival

Beberapa hari terakhir lini masa saya dipenuhi kabar mengenai Arsene Wenger yang akan meninggalkan Arsenal di akhir musim. Setelah berdiskusi dengan para petinggi klub, akhirnya Wenger akan segera meninggalkan pos nahkoda Arsenal.

Jujur saja, menulis tentang seseorang yang tidak terlalu kita perhatikan cukup sulit. Terlebih, Wenger merupakan seorang pelatih dari tim rival.

Goal

Mereka yang menonton sepakbola jauh lebih awal, mungkin menikmati rivalitas Arsenal dan Manchester United di awal 2000an. Bagaimana dua tim terbaik di Inggris saat itu bersaing, dengan ikon Viera dan Roy Keane bagi masing-masing klub.

Bagi saya, ingatan yang membekas tentu saja bagaimana Arsenal dipermalukan 8-2, salah satu pertandingan paling menyenangkan yang pernah saya tonton. Lainnya, ketika Ronaldo dan Park Ji Sung selalu tampil luar biasa setiap kali menghadapi Arsenal.

ESPN

Atau mungkin kalian masih ingat bagaimana seorang Fergie ‘mempermalukan’ Wenger dengan memainkan tujuh pemain bertahan melawan Arsenal, dan masih tetap mampu memenangkan pertadingan.

Selalu ada drama dengan Wenger, mengingat sejarah persaingan Sir Alex Ferguson dengan Arsene Wenger dulu. Selepas Fergie pensiun, tidak ada lagi bumbu-bumbu rivalitas seperti dulu. Melawan Arsenal tidak lagi seistimewa dulu.

Wenger, Lain Dulu Lain Sekarang

Bukan asal-asalan jika Wenger dijuliki The Professor. Bukan hanya dirinya yang bergelar akademik, tapi kontribusinya dalam dunia sepakbola tidak bisa dianggap remeh.

Arsene Wenger melatih Arsenal selama 22 tahun lamanya, waktu yang luar biasa lama dengan kondisi sepakbola modern yang sangat dinamis. Tujuh belas trofi ia persembahkan bagi klub yang bermarkas di Emirates Stadium ini, dengan 3 diantaranya sebagai juara liga.

Press Association

Tidak usah membandingkan trofi dengan Fergie. Karena jika iya, maka tulisan ini akan selesai hanya sampai di sini. Wenger pantas disejajarkan dengan Ferguson salah satunya karena lamanya ia melatih Arsenal.

Ada kutipan yang berkata, “It’s always best to go out when you’re on top”. Salah satu ciri orang hebat adalah tahu kapan ia harus berhenti.

Ferguson mundur di waktu yang benar-benar tepat. Fergie sangat bijak, ia berhenti ketika sedang di atas, sedang juara. Bukan karena ia tidak sanggup lagi melatih, tapi karena adanya kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja merusak kejayaan yang sudah ia bangun dengan susah payah.

Wenger sangat cocok disandingkan dengan kata ‘bertahan’, bukan karena gaya bermain anak asuhnya yang defensif. Melainkan karena kesanggupannya bertahan menjadi pelatih Arsenal sekian lama, dengan berbagai tekanan dan beban yang sedemikian besar.

The Independent

Setelah terakhir juara liga pada tahun 2004, Arsene Wenger tidak pernah lagi berhasil membawa Arsenal menjadi jawara di liga domestik. Standar Arsenal terus mengalami kemerosotan, yang tadinya langganan pesaing liga kemudian menjadi tim yang hanya menjadikan posisi empat besar sebagai target musiman.

Musim ini, musim terakhirnya melatih Arsenal, malah lebih parah lagi. Arsenal kesulitan mengamankan posisi empat besar, bahkan hanya terpaut beberapa poin saja dengan Burnley di posisi ke tujuh.

Wenger Yang Kolot Dan Keras Kepala

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa Arsenal tidak kunjung membaik di tangan Wenger.

Keputusannya bisa dibilang benar-benar terlambat, seharusnya ia bisa menyudahinya bahkan 10 tahun lalu. Karena apa? Dalam sepuluh tahun terakhir, Wenger hanya mendapatkan tiga trofi mayor, itupun hanya Piala FA.

Daily Mail

Selalu ada siklus di mana Wenger membawa Arsenal di atas angina beberapa saat, kemudian semuanya menukik turun hingga hampir akhir musim. Di akhir musim performa membaik, kemudian ada harapan lagi kalau Wenger akan bisa membawa Arsenal membaik musim selanjutnya. Siklus yang tidak ada habisnya, terus saja demikian sampai Liverpool menjuarai liga.

Suara Bising Di Sekitar Wenger

Keadaan ini membawa perpecahan ke tubuh pendukung Arsenal itu sendiri. Mereka yang menginginkan Wenger Stays dan mereka yang ingin Wenger Out. Keributan ini sudah terdengar bertahun-tahun dan terus berulang, setidaknya sampai saat ini.

Gejolak yang terjadi tidak selamanya ‘merugikan’, lihat saja bagaimana ArsenalFanTV meraup pundi-pundi uang dari bobroknya performa Arsenal di bawah Wenger. Hebatnya, tidak hanya pendukung Arsenal yang menonton saluran ini. Para pendukung tim lain menjadikan saluran ini sebagai sarana hiburan, dengan melihat luapan emosi dari pendukung Arsenal yang kecewa.

Mirror

Mulai musim depan, Piers Morgan dan ArsenalFanTV harus mulai mencari topik bahasan lain mengenai Arsenal.

Kini pertanyaan mereka sudah berganti, bukan lagi kapan wenger akan pergi? Melainkan, bisakah penggantinya lebih baik dari Wenger?

Satu-satunya cara agar Wenger bisa menutup karirnya di Arsenal dengan manis ialah dengan menjadi juara Europa League. Sebagai pendukung Manchester United, jelas saya enggan melihatnya mengangkat trofi. Sebagai seorang yang mencintai sepakbola, saya mendukungnya.

Suara bising yang mengganggu tidurnya, segera hilang, bersamaan dengan hilangnya sosok Wenger di kursi kepelatihan Arsenal.

Spanduk perpisahan kepada Arsene Wenger. Twitter/Welbeast

Selama ini ia tidak dihargai sebagaimana ia pantas dihargai. Semua tentangnya bisa diperdebatkan, tapi sudah saatnya memberi penghormatan yang sebaik-baiknya pada Wenger. Karena belum tentu penggantinya akan sebaik dirinya, meskipun saya tidak berharap penggantinya sukses bersama Arsenal.

Pada akhirnya, suara bising itu segera berakhir. Istirahatnya akan lebih tenang dari sebelum-sebelumnya. Akhirnya ia bisa mengikuti apa yang Fergie lakukan dengan Manchester United. Menikmati permainan timnya dari tribun penonton, bukan lagi sebagai peramu taktik tapi sebagai seorang pendukung. Bagian paling melegakan, tidak akan ada lagi tagar #wengerout.

Merci Arsene!

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya

Komentar ditutup.