Blurred Memories of an Unforgettable Legacies

0 77

“Suatu pagi, istri saya datang dan melihat saya melatih para anak-anak muda ini sebelum pergi berbelanja. ‘Bagaimana kau memperlakukan mereka itu memalukan, apakah kau akan memaki anakmu seperti itu di rumah?’ kritik istri saya. Saya menjelaskan padanya jika ada sebuah metode dalam kegilaan yang ia lihat. Jika saya tidak memperlakukan mereka seperti saat ini, mereka akan kesulitan bermain di bawah arahan Alex Ferguson, khususnya saat mereka melihat sisi lainnya dari Alex di ruang ganti. Untuk bermain dengan jersey United, mereka membutuhkan mental baja.” (Eric Harrison)

***

Buat sebagian orang, periode Oktober-November 1986 mungkin bukanlah periode yang penuh memori. Namun buat Manchester United, periode tersebut adalah salah satu bab penting dalam buku sejarah klub. Kala itu, terjadi transisi antara era Ron Atkinson ke Sir Alex Ferguson. Pada awal November, Fergie resmi diangkat sebagai pelatih Manchester United menggantikan Big Ron. Beberapa hari setelah resmi diangkat, Sir Alex mengadakan salah satu pertemuan—yang mungkin tidak banyak yang tahu—akan mengubah sejarah Manchester United tak hanya untuk satu, dua tahun ke depan setelahnya, melainkan untuk 20 hingga 30 tahun yang akan datang.

Dalam pertemuan tersebut, ia memanggil Eric Harrison, kepala pengurus akademi dan pengelolaan pemain muda United yang telah lebih dahulu berada di Manchester. Eric telah berada di klub sejak 1981 saat Ron Atkinson ‘menjemputnya’ dari markas Everton. Dalam pertemuan singkat tersebut, Sir Alex menyampaikan kekecewaannya terhadap pengelolaan pemain muda di United yang ia anggap berada di bawah standar.

“Norman Whiteside dan dua pemain lainnya datang dari akademi,” sebut Eric membela diri.
“Ya, saya berterima kasih untuk itu, tapi saya ingin lebih,” balas Ferguson.
“Apa maksudnya, Anda ingin lebih (banyak pemain)?”
“Saya ingin lebih banyak pemain yang datang dari akademi.’
“Baiklah, kita akan membuat kesepakatan, Alex. Kau berikan beberapa talenta untuk diasah, dan akan ada lebih banyak pemain muda yang naik ke tim utama.”
“Tentu!”

***

Sir Alex Ferguson bukanlah seseorang yang mengatakan sesuatu, lalu melakukan hal yang sebaliknya di kemudian hari. Setelah pertemuan itu, ia dengan bantuan Eric Harrison langsung merombak struktur akademi klub. Ia menaikkan jumlah pemantau bakat dan staf akademi United hingga 3 kali lipat dan Manchester United tidak pernah melihat ke belakang sejak saat itu, mata mereka fokus akan apa yang menunggu mereka di masa depan, klub ini untuk pertama kalinya sejak era Busby-Murphy, bangkit dan mulai bergerak maju.

Apa yang terjadi setelahnya, as we knew it: History. Setelah menjalani beberapa musim yang cukup sukar, Manchester United era Ferguson berhasil menancapkan kuku mereka tidak hanya di wilayah domestik, tetapi juga Eropa, sedikit banyak berkat energi yang mereka hasilkan sendiri lewat struktur akademi yang mengalami restrukturisasi pada era Sir Alex Ferguson. Tak jarang dalam beberapa laga krusial di medio 90-an dan awal 2000-an, skuad yang dibawa Ferguson memiliki tak kurang dari 10 pemain yang diproduksi langsung akademi United, pemain-pemain yang melewati gemblengan dan pengawasan langsung tangan dingin seorang Eric Harrison di level junior.

Apa yang dilihat para pendukung Manchester United di lapangan adalah buah kerja keras dan kemampuan manajerial jenius Sir Alex Ferguson sebagai manajer United, tetapi untuk setiap pemain muda yang muncul ke permukaan dan menjadi pemain utama tim dalam periode itu, sebuah senyuman tanda rasa puas dan bahagia menghiasi wajah Eric Harrison.

“Saya akan selalu mengingat momen saat saya berbicara dengan Paul (Scholes) di akademi. Saya memuji permainannya dan respon yang ia berikan sangat mencerminkan kepribadiannya, ia menjawab dengan satu kata: ‘Lumayan’. Saya lalu mengatakan, ‘Anda melakukan lebih dari lumayan, dalam waktu dekat Anda akan bermain buat tim utama.’ Ekspresi wajahnya berubah, melihat ekspresinya saat itu membuat saya senang, ini seperti memenangi sebuah lotere,” kenang Eric.

Eric Harrison beberapa kali menggambarkan pekerjaannya di United sebagai pekerjaan terbaik di dunia. Bekerja dengan talenta-talenta muda berbakat di Manchester United adalah sesuatu yang selalu ia nikmati. Ia menganggap ini bukan hanya soal melatih mereka kemampuan teknis, tetapi bagaimana mengajari mereka nilai-nilai sosial dan kebiasaan baik. Singkatnya Eric tidak hanya mengajarkan pemain-pemain muda ini untuk menjadi pemain sepakbola top, tetapi ia juga mengajari mereka pelajaran mental, dan bagaimana menjadi pria yang seutuhnya di dalam dan di luar lapangan.

Semua orang dalam akademi tahu Ryan Giggs, David Beckham, dan Paul Scholes adalah pemain yang punya segudang talenta untuk menjadi pemain kelas atas, tetapi tantangan utama Eric adalah bagaimana ia mengembangkan nama-nama ini menjadi pemain yang tidak hanya mampu memenuhi standar tim utama, tetapi juga menaikkan standarnya untuk pemain muda yang akan mengikuti jejak mereka nanti.

Eric selalu menekankan gaya main yang diinginkan Ferguson saat melatih. Namun satu hal yang saat itu lebih ditekankan adalah bagaimana sekelompok pemain berbakat ini bermain sebagai tim dengan etos kerja alih-alih hanya sekelompok pemain yang bermain bersama-sama karena mereka diharuskan untuk itu. Jika Giggs atau Scholes bermain dalam tim yang dilatih Eric dan mereka mulai mengabaikan nilai-nilai yang ditanamkan klub saat bermain, mereka akan langsung digantikan oleh pemain lain. Tidak ada anak emas dalam tim besutan Eric Harrison di akademi.

“Buat saya ini bukan soal bermain untuk lambang yang ada di dada kalian, tetapi ini adalah soal apa yang diwakili oleh lambang itu. Jika Anda mengenakan jersey dengan lambang klub ini dan Anda tidak bekerja lebih keras dari lawan Anda, saya akan menarik Anda keluar, dan akan saya pastikan, Anda tidak akan mengenakan jersey ini lagi,” sebut Eric Harrison mengenang metode kepelatihannya pada awal milenium saat diwawancarai Telegraph.

Untuk seseorang yang menyebut metodenya sendiri sebagai “10 persen menendang bokong anak asuhnya dan 90 persen merangkul mereka”, eks anak-anak asuh Harrison tidak terlalu mengingat momen yang 90 persen tadi. “Ini seperti bergabung dengan latihan tentara dan memiliki Eric sebagai mayor Anda,” tulis Giggs dalam otobiografinya beberapa tahun lalu. “Anda tidak dapat menjawab apa yang ia katakan, ia sangat mengintimidasi. Ia tidak akan pikir panjang untuk mengusir Anda dari lapangan jika Anda mulau bertingkah. Ia sosok yang keras, tapi cerdas. Ia membuat laga berjalan mudah.”

***

“Ia mencintai Scholesy seperti anaknya sendiri. Mark Hughes juga sosok lainnya, ia mencintai mereka semua. Di luar lapangan atau fasilitas latihan Eric tidak akan mengatakan satupun hal buruk mengenai anak asuhnya. Meski ada momen di mana ia sangat keras pada anak asuhnya, ia sangat dekat dengan mereka semua,” sebut Vicky, anak Eric Harrison pada harian Times beberapa bulan lalu.

Generasi Class of ’92 bersama Sir Alex Ferguson ©Manchester Evening News

Lebih jauh Vicky menyebut jika cinta ayahnya pada mantan anak asuhnya tidak hanya terbatas pada mereka yang sukses, tetapi juga mereka yang gagal mencapai kesuksesan. “Ia keras, tetapi ia peduli pada semuanya. Bahkan untuk para pemain yang gagal menembus tim utama atau yang gagal memiliki karir yang bagus. Ia pernah mengatakan jika salah satu hal yang paling berat dalam pekerjaannya adalah melepas para pemain ini (beberapa pemain yang dianggap tidak cukup baik umumnya tidak akan ditawari kontrak profesional). Ia membenci hal itu. Kami bertemu Raphael Burke (salah satu angkatan Class of ’92 yang gagal bersinar) dan mengatakan pada saya jika Eric terlalu keras padanya, Eric menyebut ia perlu menjadi lebih kuat. Namun beberapa tahun setelahnya ia mengatakan jika ayah saya mengatakan hal yang sebenarnya dan ia memahami situasi itu.”

Setelah melihat langsung skuad asuhan Ferguson menggapai gelar Champions League di Nou Camp pada musim panas 1999, Eric memutuskan jika ini saat yang tepat untuk berhenti. Ia sempat menjalani periode singkat sebagai pemantau bakat lepas, tetapi usia mulai menggerogoti kemampuannya dalam mengambil keputusan. Belum lama ini Eric didiagnosis menderita Dementia, sebuah penyakit yang ditandai dengan menurunnya kemampuan berpikir kognitif seperti kemampuan berkomunikasi dan juga memori, umumnya diderita oleh para kaum lanjut usia. Penyakit ini juga diderita banyak pesepak bola yang telah pensiun, salah satunya legenda Manchester United dan timnas Inggris, Nobby Stiles.

***

“Eric punya hubungan bagus dengan para pemain yang ia latih sampai ia benar-benar sakit. Kami sebagai keluarga tahu ada sesuatu yang tidak beres, dan saat kami membawanya untuk diperiksa kami mengetahui jika ia menderita Dementia sekitar tiga tahun lalu,” sebut Vicky. Salah satu anak asuh yang peduli dengan Eric adalah Beckham. Saat Eric memutuskan untuk meninggalkan Manchester United, Beckham menawarkan kesempatan untuk bekerja di akademi yang ia dirikan.

Beberapa waktu lalu tahun ini, anak dari Vicky (cucu Eric), Joseph menemukan buku telepon yang disimpan oleh Eric, berisikan kontak para pemain asuhan kakeknya. Ia pun mencoba menghubungi beberapa anggota angkatan Class of ’92 untuk menjenguk sang kakek. Joseph merasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan eks anak asuh Eric atas kondisi kakeknya yang sebelumnya terus dirahasiakan oleh pihak keluarga.

“Ayah saya masih memiliki nomor telepon semua pemain yang pernah ia latih. Suatu hari anak saya, Joseph mengontak beberapa eks anak asuh Eric: Ryan (Giggs), Paul (Scholes), Gary (Neville) dan mengatakan pada mereka: ‘Kakek saya tidak berada dalam kondisi yang baik, apakah kalian tidak memiliki masalah untuk datang ke sini?’ Dalam sepekan mereka semua mengetuk pintu rumah kami. Saya terkejut karena Joseph tidak mengatakan apapun tentang hal ini. Ryan Giggs ada di depan pintu rumah kami dan mengatakan jika ia ingin bertemu Ayah saya, Eric. Anda melihat rasa hormat para pemain masih tetap sama setelah beberapa dekade, dan Anda juga dapat melihat beberapa dari mereka terkejut, karena mereka seperti tidak melihat seseorang yang mereka kenal dahulu. Ayah kami, Eric hanya mengenal keluarga dekatnya saat ini. Ia mengingat beberapa nama, tetapi ia tidak yakin siapa mereka,” sebut Vicky.

Untuk eks pemain-pemain yang datang saat itu, mereka cukup terkejut dengan kondisi eks pelatih mereka di akademi. Shirley Harrison, istri Eric menggambarkannya dengan jelas reaksi anggota Class of ’92 yang hadir menjenguk mantan pelatih mereka beberapa bulan lalu: “Eric masih membicarakan nama-nama Giggsy, Beckham, Scholesy, Neville bersaudara, tetapi saat ia bertemu dengan mereka, ia tidak mengenali satupun dari mereka. Ia mengenal saya dan anaknya, ia bahkan kesulitan mengenali cucunya sendiri. Para pemain ini terkejut karena mereka tidak melihat Eric yang mereka kenal hari itu, dan itu momen yang sulit diterima buat mereka. Beckham bahkan datang dengan kue wortel yang ia panggang bersama anak-anaknya dan sebotol whiskey. Setelah melihat kondisi Eric ia kembali ke mobilnya sebentar dan menangis.”

***

Saat Manchester United mengadakan acara memperingati 25 tahun Class of ’92, Eric tidak dapat hadir dan Vicky-lah yang datang untuk menerima penghargaan yang ditujukan untuk sang ayah. Dalam acara itu, Sir Alex mengatakan pada Vicky jika ayahnya membantu dirinya membangun klub ini. Saat manajer tersukses Britannia Raya mengatakan hal itu, Vicky pasti tahu sang ayah telah melakukan pekerjaan spektakuler.

Eric Harrison saat ini adalah sosok yang berbeda dengan dirinya dua atau tiga dekade lalu. Sepakbola tidak lagi ada di pikirannya saat ini. “Salah satu hal yang membuat kami keluarganya sedih adalah fakta ia mulai kehilangan hasratnya menyaksikan sepakbola, itu adalah hidupnya. Dahulu, ia akan berhenti melakukan apapun untuk menyaksikan sepakbola, pertandingan apapun, level usia apapun. Itulah yang dilakukan dementia pada dirinya, penyakit itu merenggut sebagian hasrat hidup Eric.”

Vicky mengatakan jika sang ayah meskipun memiliki ingatan yang samar-samar, masih mengingat beberapa momen peninggalannya di United: “Terkadang ia akan mengenakan jaket United lamanya, dan saat ia bertemu orang lain ia akan mengatakan: ‘Manchester United, Class of ’92.’ atau saat ia sedang berdua dengan Joseph (sang cucu) ia akan mengatakan: ‘Pernahkah saya menceritakan tentang Class of ’92 padamu?’ Ia tahu ada sesuatu di sana, tetapi ia tidak dapat mengingat sepenuhnya apa yang terjadi.”

Jumlah penderita dementia di dunia saat ini mencapai sekitar 40 juta orang, salah satunya adalah Eric Harrison, sosok brilian dibalik kembalinya Manchester United menjadi tim yang kembali disegani di medio 90-an hingga saat ini, dengan mengandalkan pemain-pemain jebolan akademi yang dibekali tidak hanya kecerdasan teknis, tetapi juga nilai budi luhur klub yang dibawa oleh Eric dan Ferguson, meneruskan apa yang dibawa oleh Matt Busby dan Jimmy Murphy ke dalam tim beberapa dekade sebelumnya.

Nyaris dua dekade setelah Eric meninggalkan akademi United, identitas yang sama masih dapat ditemukan dalam diri pemain-pemain jebolan terbaru klub, walau tidak dapat dipungkiri, cukup banyak talenta bagus yang kehilangan arah dalam setidaknya sepuluh musim terakhir. “Hal terbaik di klub ini adalah para pelatih tidak hanya membimbing Anda untuk menjadi pemain yang baik, tetapi juga untuk menjadi seseorang yang baik di luar sepakbola. Ini soal bekerja dengan keras, menghormati lawan tanpa memandang siapa mereka dan bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka. Hal itu adalah pondasi yang ditekankan klub ini di berbagai level usia. Kepribadian seperti itu dapat membuat Anda memiliki karir yang lebih panjang,” sebut Marcus Rashford dalam wawancara dengan Telegraph tengah pekan ini.

Ingatan Eric Harrison akan kontribusi yang ia berikan buat United terus memudar seiring berjalannya waktu akibat kondisi yang ia derita saat ini. Namun warisan yang ia tinggalkan sudah seharusnya melekat di ingatan semua orang yang mengasosiasikan diri mereka dengan lambang Manchester United, mulai dari staf, pemain, manajer, hingga jutaan pendukung. Namun sejujurnya pengakuan dari insan-insan ini hanya merupakan pelengkap buat sosok seperti Eric. Kebahagiaan buatnya adalah melihat langsung anak-anak didikannya seperti Scholesy, Giggsy, Neville bersaudara, Beckham, dan Butt merangkak naik dari tim junior, menjalani debut mereka bersama tim utama, mencetak gol pertama mereka, dan memenangi gelar-gelar paling bergengsi dalam olahraga ini. Sudahkah Eric menceritakan tentang Class of ’92 besutannya? (Albert Harsono/MUW)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...