#EDITORIAL – Filosofi, Fondasi, Prestasi

0 58

23 Mei 2016 menjadi penanda akhir dari rezim Louis van Gaal di United. Total 2 musim (dari 3 tahun yang disepakati dalam kontraknya dengan United) berhasil dijalani hingga United akhirnya sampai di titik jenuh: “We’ve had enough, we couldn’t take it anymore”. Agak keras tentu, mengingat Louis van Gaal baru saja menghadiahi United gelar Piala FA yang telah diimpikan selama 12 musim. Banyak yang beropini kalau status ‘tersedia’ Jose Mourinho menjadi alasan kuat akhir dari masa kepelatihan Louis van Gaal. Apakah United akan meneruskan musim ketiga dengan van Gaal jika Mourinho masih melatih Chelsea? Melihat kepercayaan yang diberikan segenap manajemen United pada LvG khususnya Ed Woodward, jawabannya adalah 100% ya.

Perjalanan seorang Louis van Gaal di United memang tidak ditakdirkan untuk menjadi perjalanan yang mudah, mewarisi skuad compang-camping era David Moyes dengan moral yang sudah jatuh sepeninggal Sir Alex Ferguson, LvG diharuskan membangun kembali fondasi rumah yang sudah reot. Total 250 juta pounds digelontorkan untuk membentuk kembali United, beberapa eksperimen dicoba namun berujung dengan kegagalan, sebut saja transfer Falcao dan Di Maria, 2 pemain kelas dunia yang gagal bersinar di Old Trafford. Meski begitu Louis van Gaal berhasil membersihkan nama-nama pemain pinggiran era Moyes dan Sir Alex. Total hampir 2 lusin nama yang dilepas United di era kepemimpinan LvG: Cleverley, Rafael, Fletcher, Chicharito, Di Maria (era LvG), Lindegaard, Welbeck, Kagawa, Bebe, Evans, Nani, van Persie, Vidic, Petrucci, Keane, Janko, Henriquez, Ferdinand, Evra, Anderson, Ben Amos, Buttner, serta Wilfried Zaha.

Apakah nama-nama di atas dirindukan oleh United? Entahlah, mungkin hanya nama Chicharito yang akan dengan mudah melenggang ke starting XI United musim ini, van Persie & Nani? They are nothing but done. bagaimana dengan Di Maria? Cukup baik saat bersama PSG, tapi jelas sulit mengharapkan performa yang sama di Premier League, apalagi dengan keengganannya mengikuti cara bermain yang diterapkan oleh van Gaal.

Musim panas lalu United cukup brilian di bursa transfer. Mendatangkan Bastian (dengan harga murah meski jadi pesakitan musim ini), Anthony Martial (top skorer United di semua ajang musim ini), dan yang paling krusial: mempertahankan David De Gea dari kejaran Madrid. Schneiderlin dan Depay memang kurang bersinar namun masih ada musim kedua untuk keduanya, and things could only get better from here, keduanya sempat menunjukkan performa ciamik dalam beberapa laga musim ini dan itu jelas sebuah pertanda baik kalau mereka masih bisa lebih baik lagi.

Keengganan Louis van Gaal untuk memiliki skuad yang gemuk juga patut disorot, total hanya 19 pemain senior (gue anggap yang senior itu di atas 23 tahun) yang dimiliki United hingga akhir musim ini. Banyak pihak yang menyebut jika munculnya para pemain muda disebabkan oleh banyaknya pemain senior yang cedera, memang benar kenyataannya namun salah satu faktor para pemain muda itu bisa muncul ke permukaan adalah skuad yang ramping.

Yakin Rashford bisa ngebobol gawang City dan juga Arsenal kalau ada Chicharito atau Robin van Persie? Yakin kalau nama Lingard akan menghiasi papan skor di laga final Piala FA jika masih ada Kagawa? Terdengar naif namun dengan membuang para pemain pinggiran tadi, jalan untuk talenta-talenta muda United musim ini terbuka lebar. Saat satu pintu tertutup, pintu lainnya akan terbuka, dan kadang kita terlalu lama menyesali pintu yang tertutup tadi. Louis van Gaal mencoba membuka pintu baru untuk United, dan terkadang dibutuhkan proses, sesuatu yang kurang dihargai di era modern football seperti saat ini. Track record orbitan pemain muda van Gaal juga cukup panjang, sudah ada sejak era Ajax 90-an, jadi jelas banget ini bukan kebetulan belaka.

Buat yang udah baca sampai sini pasti ngira gue pendukung Louis van Gaal garis keras. Kenyataannya enggak. Jujur secara personal, gue merasa keputusan United untuk menggantikan LvG dengan Mourinho sudah tepat. Melihat tim-tim rival yang semakin kuat: City dengan Pep, Liverpool dengan Klopp, Arsenal yang sudah pakem (walaupun minim ambisi), Spurs dengan semangat baru a la Poch, Chelsea dengan aroma Italia Conte, hingga ancaman baru dalam bentuk Leicester-nya Ranieri. United tidak bisa tinggal diam. United perlu mengejar ketertinggalan, United butuh sosok arogan yang bisa mengembalikan United ke dalam peta persaingan gelar juara sebelum tertinggal lebih jauh lagi.

“The world doesn’t wait, if you fall, everyone will leave you behind”, ambil contoh Liverpool.

Nama pelatih sekelas Jose Mourinho tidak akan available setiap hari. Beruntung buat United, Mou juga amat menginginkan pekerjaan ini, kalau memang nggak, Mou pasti sudah kembali entah ke Inter Milan, Real Madrid, atau mencoba peruntungan bersama PSG (atau mungkin timnas Indonesia kalau doi punya nyali).

United era van Gaal sudah kehilangan kredibilitas di mata para pesaing, dan dengan mendatangkan Mourinho untuk meneruskan fondasi yang dibangun eks mentornya itu, United seharusnya bisa berada kembali di posisi yang semestinya, bersaing untuk gelar juara.

Peranan Louis van Gaal di sini cukup besar yakni menyediakan platform atau pijakan yang kuat buat Jose Mourinho. United era Moyes adalah kekacauan, dan Louis van Gaal masuk untuk membersihkan kekacauan itu (meski juga menimbulkan kekacauan minor dalam prosesnya). Sekarang semuanya tergantung Jose Mourinho, sosok yang dari dulu udah ngebet buat ngelatih United. It’s a make or break moment, Jose! (Albert/MUW)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...