EDITORIAL – The Forgotten Regista

0 107

Berbicara soal gelandang sepak bola, ruang lingkup bahasannya tidak akan jauh-jauh dari playmaker. Dalam beberapa dekade terakhir, peranan seorang playmaker kerap diisi oleh sosok kreatif yang berada tepat di belakang striker. Seperti manusia yang berlaku sebagai aktornya, sepak bola juga mengalami evolusi. Dengan semakin ketatnya strategi pressing dan man-marking dalam sepak bola modern, sosok-sosok kreatif ini mulai ‘bermigrasi’ ke posisi yang lebih leluasa untuk mereka eksploitasi: holding midfielder. Peranan ini dikenal sebagai regista atau deep-lying playmaker.

Sedikit berbeda dengan trequartista/fantasista, seorang regista tidak dituntut untuk memiliki kecepatan serta kemampuan fisik seorang gelandang box-to-box (meskipun ada juga yang fisiknya kuat kayak Redondo dan Makelele). Meski tampil di posisi gelandang belakang, kemampuan mereka dalam bertahan juga biasanya bisa dibilang minimal. Aset utama seorang regista adalah visi bermain dan kemampuan operan di atas rata-rata. Mulai dari Luis Monti, hingga Guardiola, Redondo, kemudian Xabi Alonso, Pirlo, David Pizzaro, lalu Busquets, Montolivo hingga yang paling anyar, Strootman, Veratti, and the list goes on and on.

Istilah regista pertama kali muncul ke permukaan saat Vittorio Pozzo membawa timnas Italia menjuarai Piala Dunia secara back-to-back (1934 dan 1938) dengan menggunakan formasi yang lumayan unik: 2-3-2-3/2-3-5 (mirip dengan skema 4-1-2-3 era modern). Ia menugaskan Luis Monti, seorang gelandang bertahan, untuk memimpin orkestra serangan Italia kala itu. Satu hal yang menarik adalah fakta bahwa Pozzo mengambil inspirasi penggunaan regista dari melihat permainan Charlie Roberts, gelandang timnas Inggris dan juga Manchester United. The more you know!

***

Meski menjadi inspirasi awal kelahiran regista, Inggris bukanlah rumah bagi pemain kreatif yang bermain cukup dalam. Sebaliknya, Premier League adalah rumah bagi formasi outdated 4-4-2 di mana tugas seorang playmaker diemban oleh winger kiri dan kanan. But time changes us all, tepat 2 musim lalu Premier League menjalani evolusi, total 11 dari 20 tim bermain dengan skema 4-2-3-1, skema yang amat mengakomodasi trequartista maupun regista.

Sebenarnya jika mau mundur sedikit lebih jauh, skema yang memanfaatkan regista telah beberapa kali diterapkan Sir Alex Ferguson dalam keadaan-keadaan ‘khusus’. Pada tahun 1991, dalam laga perebutan gelar Winners Cup menghadapi Barcelona, Sir Alex menempatkan Paul Ince (destroyer) dan Bryan Robson (regista) sebagai holding midfielder dengan Brian McClair sebagai trequartista.

Dalam laga final UCL 2008 menghadapi Chelsea, Sir Alex kembali ke trademark lama 4-4-2, tetapi ia tetap mengandalkan kombinasi holding-regista dalam diri Carrick-Scholes. Semusim berselang, giliran skema 4-3-3 dengan Carrick sebagai regista dan Anderson serta Giggs sebagai mezz’ala (gelandang tengah melebar), sayang United harus takluk dari Barcelona yang memang jauh lebih superior khususnya di lini tengah dengan trio Xavi-Busquets-Iniesta.

***

Dari trio lini tengah United yang berlaga di Stadio Olimpico kala itu, hanya nama Michael Carrick yang masih aktif di level tertinggi hingga sekarang. Gaya mainnya yang kalem dan tidak neko-neko membuatnya kerap terabaikan, tidak hanya oleh media massa, tetapi juga pelatih timnas Inggris. Memulai debut timnas pada 2001, Carrick baru mengumpulkan total 34 penampilan resmi hingga detik editorial picisan ini dipost. Sebagai perbandingan, Jack Wilshere mempunyai jumlah penampilan timnas yang sama dengan Carrick. WHAT A JOKE. Carrick is just another right man at the wrong time.

Memulai karier sebagai seorang gelandang tengah, Michael Carrick perlahan mulai menguasai kemampuan passing serta teknik membaca pertandingan selama masih berada di London bersama West Ham dan juga Tottenham. Saat tiba di United pada 2006, Sir Alex menempatkannya sebagai partner Scholes di mana ia diposisikan sebagai holding midfielder (kadang centrocampista biasa), sementara Scholesy (usia 32 tahun, 7 tahun lebih tua dari Carras) mulai mempelajari peranan seorang regista yang ditugaskan Sir Alex.

Duet ini bertahan cukup lama. Pujian pun mengalir cukup deras, tak hanya buat Paul Scholes yang mampu menjalani peranannya sebagai deep-lying playmaker dengan baik, tetapi juga buat sang murid, Michael Carrick yang mampu mengimbangi permainan sang maestro. “Saya mengingatnya (Carrick) dengan Scholes, mereka seperti mesin yang sempurna. Carrick selalu berada di posisi yang tepat saat Scholes membuat pergerakan, memberikan sentuhan magisnya,” sebut Xabi Alonso, eks Liverpool.

***

Bermain bersama Scholes adalah berkah terbesar buat Carrick. Dengan kesempatan tersebut, ia bisa mempelajari peran yang akan diisinya di kemudian hari, saat ia menginjak usia kepala 3 seperti sekarang ini. Sudah menjadi rahasia umum jika beberapa gelandang tengah beralih profesi menjadi seorang regista di periode senja karier mereka. Ambil contoh Pirlo dan Xabi Alonso. “Semakin tua diri Anda, semakin banyak Anda berpikir daripada berlari. Anda perlu membaca permainan dengan lebih baik dari sebelumnya,” beber Xabi mengenai peranannya di bawah arahan Pep Guardiola musim lalu.

Bahkan setelah Sir Alex pensiun, nama Carrick tetap menjadi tumpuan, baik buat David Moyes dan Louis van Gaal. Satu hal yang membuat United gagal meguasai lini tengah pasca pensiunnya SAF adalah tidak adanya tandem yang klop untuk Carrick di tengah. Cleverley, Fellaini, serta Anderson bukanlah partner ideal. Fletcher? Cedera, parah. Masuknya Ander Herrera sempat memberi angin segar 2 musim lalu. Kombinasi Carrick-Herrera sempat meraup sejumlah poin krusial untuk memperpanjang nafas Louis van Gaal di musim tersebut.

“Ia adalah pemain penting. Buat saya, ia tampak seperti seorang pelatih berjalan dalam lapangan pertandingan. Ia bisa memberi instruksi pada rekan-rekannya. Ia adalah tipikal pemain yang bisa memainkan operan-operan ofensif, saya menyukainya. Kami tidak ingin memainkan bola ke samping ataupun ke belakang, dan saya kira ia satu-satunya pemain yang bisa mendistribusikan bola ke depan,” tutur van Gaal kala itu.

***

Saat kariernya terlihat akan usai akhir musim lalu, Carrick mendapat kesempatan kedua dengan perpanjangan kontrak yang ditawarkan oleh kubu United, sesuai dengan permintaan Mourinho. Pendukung United pun menyambut baik keputusan ini. Namun dengan masuknya Paul Pogba, ditambah dengan keberadaan Herrera, Schneiderlin, hingga Fellaini, kesempatan main Carrick pun amat tipis. Di saat duet Pogba-Fellaini bermasalah di awal musim, sempat ada wacana untuk menjajal Carrick, the forgotten regista. Saat diberi kesempatan bermain menghadapi Northampton, permainan Carrick terbilang cukup menjanjikan.

Banyak pendukung United mulai memprediksi jika Carrick akan kembali menjalani peranan vital, dimulai dengan kembali bermain sebagai starter saat menghadapi Leicester akhir pekan lalu. Sayang, Mourinho berpikiran lain, ia memilih menduetkan Pogba dengan Herrera (dengan hasil yang cukup baik tentunya), which is another good option ketimbang Pogba-Fellaini. Meski begitu ada perkembangan untuk Carrick, namanya kembali terlihat di team sheet, meski cuma sebagai pemain pengganti.

***

Di usianya yang menginjak 35 tahun, karier seorang Michael Adrian Carrick sebagai salah satu generasi terakhir regista di tanah Britania mungkin sudah mendekati akhir. Namun hingga saat itu tiba, nampaknya kita semua masih akan menikmati umpan-umpan manis dan sentuhan magis sang regista yang sering kali terlupakan, tertutup oleh hingar bingar gemerlapnya Premier League, setidaknya untuk satu atau dua kali lagi.

Seperti yang dikatakan Thierry Henry beberapa musim lalu: “Orang-orang tidak akan menyadari pekerjaan besar yang dilakukan seorang Michael Carrick dalam kariernya. Mereka akan mulai menyadarinya nanti, saat sang pemain sudah pergi.”

Then again, it’s Carrick, you know. It’s hard to believe it’s not Scholes. (Albert/MUW)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...