#EDITORIAL – Kepingan Puzzle Membingungkan

0 91

Lupakan keputusan Jose Mourinho untuk memainkan 2 pemain yang baru kembali dari cedera, Lingard dan Mkhitaryan secara bersamaan dalam laga kemarin, kesalahan terbesar yang ia buat awal musim ini mungkin saja berkaitan dengan penempatan Paul Pogba. Why is that?

Pogba datang dengan mahar transfer pemecah rekor dunia. Ekspektasi publik jelas besar, dan hingga saat ini Pogba belum menemukan permainan terbaiknya. Bahkan jika mau mundur ke belakang dan membandingkan performa Pogba bersama United dengan performanya di Euro lalu, perbedaannya tidak terlalu signifikan, which is not surprising at all. Kenapa? Karena ia dimainkan di posisi yang relatif sama, yakni holding midfielder.

Sejak Jose Mourinho datang, United mulai pakem dengan skema 4-2-3-1, skema yang menitikberatkan double-pivot atau 2 gelandang tengah tipe defensif untuk meng-cover 4 pemain bertahan (back four). Melihat skuad United saat ini ada 3 pemain yang secara natural dapat mengisi posisi tersebut, and you know what? Dari 3 nama tersebut, Pogba bukan salah satunya (here’s a clue: Fellaini juga bukan, meskipun perlahan tapi pasti do’i udah mulai memahami peranan tersebut).

Mereka adalah Schneiderlin, Carrick, dan si pemain terbuang, Bastian Schweinsteiger. Khusus untuk nama pertama, ia memang dilahirkan untuk menjadi seorang holding midfielder, catatan defensifnya yang impresif selama di Southampton berbicara banyak hal. Untuk Carras dan Basti, keduanya bukan holding midfielder natural, namun seiring bertambahnya umur dan pengalaman, keduanya cukup fasih untuk mengisi pos tersebut.

***

Balik ke Pogba, jauh di dalem, gue masih yakin seyakin-yakinnya kalo keputusan United memulangkan Pogba udah tepat, terlepas dari harganya yang kurang masuk akal. Tapi menurut pendapat pribadi, apakah Pogba cocok dimainkan di posisinya saat ini? Menurut pendapat sotoy gue? Jawabannya enggak. Menurut statistik? Jawabannya juga enggak.

Dari yang gue liat, entah kenapa Mourinho sejak awal melihat Pogba sebagai the next Nemanja Matic (atau next Cesc?) which is kind of absurd. Nama Nemanja Matic memang bukan nama sembarang. Do’i adalah sosok utama dibalik gemilangnya lini tengah Chelsea di musim juara 2014/15, selain si raja assist, Fabregas tentunya.

Duo Cesc-Matic kala itu dimainkan di posisi Pogba-Fellaini saat ini. Berbeda dengan Pogba dan Fellaini yang memiliki kemiripan postur dan gaya main, Fabregas dan Matic memiliki gaya main yang berbeda dan keduanya saling melengkapi, saat Fabregas maju ke depan mengkreasi peluang, Matic menghadirkan kestabilan di lini tengah. Saat Fabregas kehilangan bola, Matic cenderung siap mengcover backfour milik Chelsea. Hal ini tidak terjadi di United.

***

Pada konferensi pers, Mourinho tidak banyak memberi ‘petunjuk’ pada para pendukung serta rival tentang bagaimana cara ia akan menggunakan Pogba musim ini. Sempat ada wacana ‘free role’ untuk Pogba, di mana peran itu cukup masuk akal melihat keluwesan serta kemampuan Pogba di lini tengah.

Tapi, semakin ke sini, semakin terlihat kalau Mourinho menempatkan Pogba di posisi yang tidak seharusnya, in a not so-free-role di posisi holding midfielder. Untuk menjadi seorang holding midfielder yang baik serta bertanggung jawab (idaman mertua), seorang pemain harus tahu kapan waktu untuk membantu penyerangan dan kapan harus stand still jadi tembok paling pertama pembelah ombak serangan lawan. Kalo holding midfieldernya seliweran ke depan dan sering telat balik, what’s the point? Jadiin aja centrocampista atau trequartista sekalian, nanggung.

Gak percaya kalo Pogba gak ditakdirkan untuk menjadi seorang holding midfielder nomor wahid? Here are the stats. Ada 3 atribut utama yang bisa dijadikan parameter kualitas seorang holding midfielder yakni kemampuan merebut bola (mengembalikan penguasaan bola), kemampuan tekel serta intersepsi, dan duel udara. Untuk atribut pertama, musim lalu Pogba berada di peringkat ke-18 se-Eropa di bawah pemain-pemain seperti Kante dan Idrissa Gueye. Untuk atribut kedua, Pogba ada di urutan ke-92 (sembilan puluh dua), bahkan di bawah pemain-pemain kelas dua seperti James McCarthy. Untuk duel udara gue gak tau pasti rankingnya, tapi kelihatannya cukup oke, catatannya melebihi Schneiderlin, Carrick, ataupun Schweini, tapi itu semua gak jauh-jauh dari posturnya yang emang bongsor.

***

Dalam laga kemarin terlihat Pogba beberapa kali mencoba membantu serangan di depan, di mana hal yang sama juga dilakukan Fellaini. Nah loh, yang ngawal pos ronda di depan Bailly-Blind siapa jadi? Absennya security guard di pos ronda dimanfaatkan berkali-kali oleh Silva dan De Bruyne yang tinggal berhadapan langsung dengan Bailly dan Blind. Sialnya buat United, Blind gak sekokoh biasanya, jadilah Bailly pontang-panting menangani playmaker-playmaker cilik nan licik dalam diri Silva, Sterling, dan KdB. Khusus nama terakhir, peranannya amat vital buat kemenangan City, positioning serta movementnya bener-bener yahud. Ini dia the one that got away versi Mourinho (kalo Pogba kan the one that got away versi SAF).

Baru kali ini United menghadapi lawan yang punya banyak playmaker berkualitas seperti City (kemewahan yang jelas tidak dimiliki Bournemouth, Soton, dan Hull). Satu pelajaran dapat dipetik malam kemarin, yakni memainkan Pogba dan Fellaini yang berkarakter sama di posisi sejajar untuk menghalau pemain-pemain yang teknis serta gesit itu bagaikan meletakkan mentega untuk menghalau pisau panas. Mungkin keadaannya akan sedikit membaik jika Schneiderlin menemani salah satu dari Pogba atau Fellaini. Who knows?

Selama di Juventus, Pogba sering kali beradaptasi di banyak posisi namun posisi gelandang tengah-kiri dalam skema 4-3-3 serta posisi gelandang sentral dalam skema 3-5-2 Allegri jadi salah satu posisi favorit Pogba di negeri Pizza tersebut. Bahkan saat tampil sebagai holding midfielder dalam skema 4-3-1-2, Pogba sering kali lebih condong ke free role saat tampil, hal ini didukung dengan keberadaan jangkar yang mendukung pertahanan seperti Khedira, Lemina, atau Sturaro.

Dalam laga kemarin, Pogba versi Juventus masih sering terlihat, ia mencatatkan 5 dribel sukses, jumlah terbanyak dari semua pemain PL yang tampil kemarin. Masalahnya cuma satu, ia tidak bebas untuk maju ke depan karena ia harus membantu mengcover lini belakang. 5 dribel sukses? That’s a final third stuff! Put it in bold: Gue rasa bakat Pogba disia-siakan di posisi holding midfielder. Gak percaya? Coba ditonton lagi deh pertandingan-pertandingan Perancis Euro lalu saat Deschamps menjajal 4-2-2-2 sama 4-2-3-1, bola nyangkut di tengah, Pogba gak banyak kreasi.

Selama di Turin, saat Allegri sedang menerapkan skema 4-3-3 (interchangable ke 3-5-2), Pogba sering kali melakukan kombinasi serangan dengan eks fullback United, Pat Evra dari sisi kiri, dan menghujam beberapa umpan matang ke kotak penalti yang nantinya dapat disambar Morata, Dybala, atau Mandzukic. Mungkin skema ini bisa diterapkan Mourinho di United, apalagi dengan keberadaan Luke Shaw yang tidak kalah luwes di kiri. 4-3-3 bukan hal baru untuk Mourinho, era kesuksesan awalnya di Inggris bermula dari skema ini.

***

Investasi dengan harga £89 juta bukan sesuatu yang sepele, dan untuk itu United dan Mourinho harus terus mengevaluasi serta memikirkan opsi yang pas untuk menempatkan Pogba. Dengan mahar besar yang menyertainya, mungkin setiap orang akan mengharapkan Pogba untuk dapat bermain di mana saja, tapi selalu ingat kalau menjadi spesialis di satu posisi jauh lebih baik daripada menjadi pemain versatile dengan kualitas standar. Jack of all trades, master of none.

Semua pemain punya potensi untuk mempelajari peranan baru dan Mourinho mungkin sedang ‘mengajari’ Pogba kemampuan baru di posisi baru, it works sometimes, but not always. Saat hal itu tidak berjalan mulus, mungkin waktunya mundur sejenak, melihat gambaran yang lebih besar. Kadang hal itu membantu Anda menyelesaikan kepingan-kepingan puzzle yang masih tersisa di meja. (Albert/MUW)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...