#EDITORIAL – One Big Enigma

0 85

“A chain is only as good as its weakest link.”

Analogi di atas bisa diartikan sebagai: “Sebuah tim hanya akan sebaik titik terlemahnya”. Dalam beberapa pekan ini nama Wayne Rooney kerap diasosiasikan sebagai titik lemah Manchester United era Jose Mourinho. Namun pertanyaan utamanya adalah: Apakah benar begitu? In a way, gue setuju. Ia beberapa kali terlihat kesulitan mengikuti tempo dan gaya main yang ingin dibangun United dan statusnya sebagai kapten secara gak langsung mempengaruhi keputusan Mourinho dalam menentukan skema yang akan digunakan United – “Apakah skema itu mengakomodasi kapten gue?”

Tidak heran jika banyak insan sepak bola (komentator, eks pemain, pengamat) hingga para pendukung United (mulai dari yang sensible sampe yang cuma jadi keyboard warrior) yang mulai mengutuk keras keberadaan Wayne Rooney di dalam tim. Penampilan Rooney v Watford akhir pekan lalu menegaskan klaim-klaim negatif tersebut: Kesalahan operan, umpan silang yang buruk, sepak pojok yang sangat buruk (2 kali bola nyasar kalo gue gak salah inget), pembuatan peluang yang amat sangat minim (0 peluang), hingga positioning yang sama sekali tidak membantu tim dalam situasi-situasi krusial.

But let’s step aside from that fact, kalo mau jujur, Wayne Rooney memang menghambat United, tapi apakah hanya seorang Wayne Rooney yang bertanggung jawab atas kebobrokan United? Jawabannya jelas tidak. Disadari atau tidak, bahkan tanpa seorang Wayne Rooney di lapangan, saat menghadapi Feyenoord, penampilan United tidak jauh lebih baik. Ada satu masalah fundamental dalam tubuh Manchester United dan itu lebih dari sekedar Wayne Rooney yang underperform.

***

Jadi, apa masalahnya? Sampai sekarang jawabannya masih samar, ada banyak variabel dalam sepak bola dan butuh lebih dari sekedar tebak-tebak buah manggis untuk memahami apa yang salah dengan United. Dalam laga akhir pekan lalu, lini belakang sampai depan sama bobroknya. My best guess? Inti permasalahannya ada di lini tengah. Kenapa? Here’s the drill.

Lini tengah adalah salah satu lini paling penting dalam sepak bola. Ini adalah area di mana 3-5 pemain menjadi penyambung antara lini serang dan lini bertahan, bukan hanya itu, mereka juga adalah support/back-up utama untuk kedua lini yang disebut tadi. Ketika lini tengah ini gagal menjalankan tugasnya, lini belakang dan lini depan jelas akan berjuang sendirian. Ambil contoh skema 4-2-3-1 yang saat ini sering diterapkan Mourinho.

4-2-3-1 adalah variasi bentuk dari 4-5-1 di mana 5 pemain berada di area lini tengah, breakdownnya ada 2 pemain bersifat defensif yang mengisi posisi holding midfielder (bisa juga 1 holding dan satu lagi free role atau main lebih ke depan) dan 3 lainnya adalah pemain bersifat ofensif (2 sayap dan 1 playmaker utama di belakang striker).

Saat Pogba dan Fellaini gagal mengembalikan penguasaan bola yang hilang serta gagal ‘menjegal’ lawannya, lini belakang jelas akan pontang-panting menerima ombak serangan lawan. Tidak jauh berbeda di depan. Zlatan Ibrahimovic juga terlihat harus bolak-balik ke tengah karena Wayne Rooney tidak dapat memberikannya bola-bola matang.

Tersisa Martial dan Rashford yang berada di sisi kiri dan kanan lini serang United. Nama pertama tidak banyak membuat perbedaan sebelum akhirnya ditarik keluar akibat cedera. Bahkan sejak awal musim, bisa dibilang performa Martial biasa-biasa aja. Satu-satunya pemain yang mencatatkan performa positif dari 5 pemain yang beroperasi di lini tengah United akhir pekan lalu adalah Rashford. This midfield of five ain’t working, Jose.

***

Entah komposisi pemainnya aja yang belum dapet atau memang materi pemain yang sekarang gak cocok dengan skema ini, cuma waktu yang bisa menjawab. Terlepas dari lini tengah yang gak suportif, penampilan individu beberapa pemain lain juga lumayan meragukan. Bailly-Smalling-DDG tampak tidak saling memahami satu sama lain, mungkin efek baru masuknya Smalling ke dalam tim membuat kerja sama lini belakang mesti dibentuk lagi dari awal. Inget saat Smalling ‘berebut’ bola sama DDG? Oh my, insiden konyol ini tentunya bisa dihindari seiring Smalling mengoleksi lebih banyak menit main. Semoga.

Balik lagi ke si kambing hitam semua orang, Wayne Rooney. Gue setuju banget dengan pendapat Jim White dalam kolom terbarunya di Telegraph kemarin: “Rooney bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi Jose Mourinho. Ia juga harus menyadari jika memainkan Fellaini dan Paul Pogba bersamaan bukanlah ide bagus.” In case you missed it, soal Pogba-Fellaini ini udah pernah dibahas di 2 editorial sebelum ini oleh si admin sotoy yang juga nulis editorial ini (Kepingan Puzzle yang Membingungkan – https://www.facebook.com/manutd.world/photos/a.108282179262263.17079.106572646099883/1133342796756191/?type=3&theater ).

***

Jika beberapa laga terakhir dijadikan patokan, Wayne Rooney is simply not good enough, dan jika ente berpikir sebaliknya, mungkin ente orangnya emang agak delusional, perbanyak aja minum air putih, siapa tau sembuh. Menurut gue sekali-kali ngedrop Rooney ke bench gak akan menyakiti mental tim, justru ini menunjukkan jika persaingan di posisi playmaker itu ada, bukannya trivial kayak yang dilihat orang-orang sekarang.

Persaingan sehat tentunya akan membawa aura positif, siapa tau Rooney bisa memperbaiki diri. Namun lebih dari semua Rooney-related rant yang menghujani dunia maya, United punya masalah lain. Gue setuju sama Scholes yang bilang kalo United gak bermain sebagai tim dalam beberapa laga terakhir, ada hal yang tidak berjalan dengan semestinya, komposisi tim belum tepat. Rooney is one of the problems, but not the whole problem. Alih-alih satu masalah kecil yang disorot banyak orang, ada satu buah enigma yang lebih besar untuk segera dipecahkan oleh sang juru taktik, Jose Mourinho. (Albert/MUW)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Berita Menarik Lainnya
Komentar
Memuat...