Mengasingkan Yang Dekat, Menyembah Yang Jauh

Persepakbolaan Indonesia kembali berduka karena permainan yang dicintai rakyat harus direnggut oleh 'iblis-iblis' yang tidak paham akan sepakbola. Masihkan harapan itu ada?

1.092

Sebagai seorang yang lebih menyukai liga-liga di benua Eropa khususnya Liga Inggris dibanding liga yang ada di Indonesia, tidak ada salahnya masih mengikuti perkembangan yang ada walaupun dengan sikap skeptis.

Beberapa waktu lalu, Liga 1 resmi berakhir dengan Bhayangkara FC yang menjadi juara. Akhirnya, setahun ini kompetisi persepakbolaan nasional kembali hidup setelah sebelumnya sempat mati suri. Musim perdana liga dengan konsep baru pun digelar seiring dengan antusiasme yang tinggi dari penggila sepakbola tanah air. Harapan pun kembali memuncak. Berharap setelah absen sekian lama, semua pihak akan sadar dan bersama-sama memajukan sepakbola tanah air.

Jalannya Liga 1 bisa dibilang sangat menarik, banyak tim yang memperebutkan posisi puncak. Ada PSM Makassar, Madura United, Bali United. Persib Bandung yang pada awal musim dengan gagah menargetkan juara dengan ‘golden era’-nya malah terseok-seok di papan tengah klasemen dan dengan susah payah menghindari zona degradasi. Sampai akhir musim drama di klasemen terus tersaji menandakan musim ini adalah musim yang kompetitif.

 Logo Liga 1 dengan dua sponsor utamanya. Credit : Liputan 6

Bukan Sepakbola Indonesia namanya jiga tidak dipenuhi dengan kontroversi. Keseruan yang terjadi sepanjang musim di atas lapangan harus dihinakan oleh banyaknya keanehan-keanehan di luar lapangan yang mengundang tanda tanya besar. Regulasi yang berubah-ubah sepanjang musim ditambah lagi dengan ketidakjelasan sikap dari PSSI dan pengelola liga malah semakin memantapkan rapor buruk pengelolaan liga sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kontroversi sepanjang musim ini membuat otot-otot supporter dari banyak klub menegang dan jengkel, tapi mengingat kondisi persepakbolaan negeri ini yang selalu memprihatinkan dengan berat hati kejadian semacam itu memang menjadi ‘maklum’. Tapi kondisi yang sudah sedemikian ruwet diperparah dengan apa yang terjadi menjelang musim berakhir. Bhayangkara FC dinyatakan menang 3-0 atas Mitra Kukar padahal skor aslinya adalah 1-1. Sissoko yang bermain bagi Mitra Kukar pada pertandingan tersebut dinyatakan tidak sah karena (menurut Komdis PSSI) harusnya Sissoko menjalani hukuman larangan bermain.

Padahal dalam surat keterangan bermain, nama Sissoko tidak ada dalam nama yang dilarang bermain. Dampaknya? Bali United yang sudah di atas angin akan memenangkan liga setelah dengan susah payah menang di Makassar, harus menerima kenyataan pahit bahwa ada ‘permainan’ di luar lapangan yang benar-benar merugikan mereka.

Klasemen Liga 1 pekan ke 33. Credit : bola.com

Saking parahnya, keanehan-keanehan di Liga 1 ini terlalu panjang jika harus dituliskan semua disini.

Banyaknya borok di PSSI dan Pengelola Liga jelas-jelas membuat para pemain dan suporter menjadi korban. Perjuangan para pemain dan tim pelatih yang diiringi dukungan oleh para suporter masing-masing tidak dihargai dan malah diinjak-injak dengan hal-hal yang sarat kepentingan di luar lapangan. Tangis dan amarah penikmat sepakbola Indonesia dianggap angin lalu oleh para penentu kebijakan.

Walaupun berstatus juara. Permainan apik Bhayangkara FC sepanjang musim langsung terhapus oleh keanehan-keanehan yang terjadi di akhir Liga 1 2017 ini. Klub-klub seperti Bali United, Madura United dan PSM Makassar sangat layak untuk diberi gelar ‘Juara Tanpa Mahkota’.

Bhayangkara FC berpesta disaat yang lain berduka. Credit : bola.com

Sepakbola Modern memang sudah menjadi industri tersendiri, uang yang berputar sangat banyak. Suporter tidak sekedar menjadi pendukung sebuah kesebelasan, tapi sudah menjadi konsumen dari putaran roda bisnis yang dijalankan secara sistematis. Uang saku dikuras habis dalam berbagai bentuk demi mendukung sebuah kesebelasan. Tidak ada yang salah dengan sistem seperti ini, yang salah adalah menjadikan sepakbola sebagai alat untuk meraih keuntungan dan kepentingan tanpa memperdulikan kemajuan sepakbolanya itu sendiri. Dan itulah yang terjadi di Indonesia.

Persepakbolaan Indonesia kembali berduka karena permainan yang dicintai rakyat harus direnggut oleh iblis-iblis yang tidak paham akan sepakbola. Masihkan harapan itu ada?

Raut kekecewaan pendukung Timnas Indonesia. Credit : Liputan 6

Tidak ada yang salah sebenarnya dengan sikap skeptis memperhatikan liga di Negeri sendiri karena memang keadaannya begitu adanya. Yang salah adalah ikut mencibir dan benar-benar apatis, lantas malah mengagungkan sebuah klub nan jauh disana yang segala sesuatunya berbeda dengan budaya kita.

Jika kebetulan ada pertandingan liga lokal pasti saya tonton dan jika tidak ada pun tidak saya cari, sesederhana itu. Tapi perkembangannya saya ikuti pelan-pelan dengan sikap kritis. Tidak adanya sikap kritis dari kita hanya akan membuat ‘tangan-tangan kepentingan’ terus mencekik nasib sepakbola Indonesia dengan leluasa. Perlahan akan mati karena ketidakpedulian kita.

Karena Persepakbolaan yang maju dimulai dari pembinaan bibit-bibit muda dengan baik didukung oleh liga profesional yang kompetitif. Akan mudah jika ada keseriusan dari banyak pihak untuk merevolusi sepakbola Negeri ini. Setidaknya agar Merah Putih bisa berkibar dengan gagah di tanah Asia, tidak perlu muluk-muluk sampai kancah Dunia. Satu langkah dalam satu waktu.

KAMI RINDU JUARA. credit : Liputan 6

Berbeda ketika Tim Nasional Indonesia yang bertanding, baik Timnas U-19, U-23 maupun Senior, saya selalu menyaksikan dengan antusias karena saya meyakini dengan seragam Merah Putih lah semua elemen suporter dan masyarakat disatukan tanpa banyak ‘tangan-tangan jahil’ yang bisa mengganggu. Dengan khidmat menyanyikan sebuah lagu yang menggetarkan jiwa setiap rakyatnya. Dengan harapan yang sedari dulu disematkan jutaan penggila bola Negeri ini, kelak sepakbola Indonesia akan maju. Harapan yang diiringi harap-harap cemas, umpat-umpatan kekesalan dan kekecewaan rakyatnya. Tetapi harapan itu akan terus ada, selama Garuda masih menempel di dada, selama masih ada Indonesia.

Salah satu pemain Timnas Indonesia U-23 saat melawan Suriah U-23. Credit : bola.com

Tentu saja semua menginginkan kesenangan yang benar-benar menyentuh ke dalam hati. Misalnya, apakah kemenangan Manchester United di Liga Champions 1999 dan 2008 benar-benar kita rasakan? Atau kita saja yang berpura-pura ikut merasakannya? Mana yang lebih menyentuh untuk diceritakan ke anak cucu, perjuangan Indonesia bertanding di Piala Dunia atau menang dramatisnya Barcelona atas PSG di Liga Champions musim kemarin? Satu diantaranya akan dirayakan dalam sekejap, diceritakan dalam beberapa hari, dan akan dilupakan dalam beberapa bulan. Satu lagi akan membekas di generasi-generasi selanjutnya.

Pengorbanan Suporter Indonesia. Credit : ANTARA FOTO

Saya meyakini akan ada masanya, kita tidak terlalu peduli dengan tim-tim yang berlaga di Liga Champions atau dengan apa yang terjadi di liga benua biru. Karena kita sudah terlalu sibuk dan asik dengan sepakbola di negeri sendiri. Akan lebih banyak orang luar negeri yang mengenal klub-klub dalam negeri. Dan pada akhirnya Tim Nasional kita akan disegani.

Sudah banyak cerita-cerita heroik perjuangan kesebelasan yang membawa bendera negaranya ke panggung tertinggi persepakbolaan Dunia yang bisa kita contoh. Walaupun memang sekarang bukanlah waktunya. Perjalanan masih jauh-jauh karena memerlukan waktu bertahun-tahun dengan konsep yang matang dan dukungan semua pihak.

Suporter Indonesia. Credit : bola.com

Selama sepakbola tidak digarap dengan serius, sepakbola Indonesia tidak akan kemana-mana. Kita akan terus dibuat kagum oleh permainan sepakbola negara-negara lain dan ‘terpaksa’ mendukung kesebelasan mereka.

Tidak ada yang salah mendukung kesebelasan di belahan dunia lain, karena sepakbola sudah menjadi sesuatu yang mendunia. Tidak lagi mengenal batasan-batasan berkat revolusi sepakbola modern, terlebih lagi inggris dengan Liga Primer-nya kemudian diikuti negara-negara lain. Yang salah adalah jika kita menyalahi takdir. Karena Kenyataannya, takdir menempatkan kita di sebuah lingkaran yang bernama Indonesia dengan segala manis-pahitnya akan sepakbola. Jangan sampai kita mengasingkan yang dekat, menyembah yang jauh.

Walaupun semuanya masih hanya sebatas angan. Tidak apa. Bermimpilah karena sepakbola itu sendiri hidup dan dibangun dari mimpi-mimpi. Manchester United dengan ‘Theatre of Dreams’-nya dan kisah Sir Alex Ferguson dengan ‘The Impossible Dreams’-nya sudah lebih dari cukup untuk mengajarkan kita apa pentingnya bermimpi. Siapa yang tidak ingin melihat Merah Putih berkibar dengan Indonesia Raya berkumandang di pentas Piala Dunia?

Bendera Merah Putih. Credit : Liputan 6

Kalaupun sampai tua nanti mimpi ini masih tetap berupa mimpi. Kelak anak-cucu akan menjadi pewaris mimpi ini. Karena mimpi ini harus dijaga, agar asa tetap ada.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya

Komentar ditutup.