Mou, Fergie, dan Harga Sebuah Ego

1.816

Persaingan Keduanya di Lapangan

Menurut Oxford Dictionary, ego adalah rasa percaya diri seseorang atau kepentingan diri sendiri. Sedangkan menurut Sigmund Freud, ego adalah perasaan mencari kesenangan dan menghindari resiko dengan merancang strategi realistis untuk mencapai kesenangan. Ego tidak memiliki konsep tentang benar atau salah, sesuatu itu baik apabila mencapai akhir yang memuaskan.

Jika definisi diatas dilihat dalam kacamata pelatih sepakbola maka ego dapat diartikan sebagai rasa percaya atau kepentingan diri seseorang dalam merancang strategi bermain untuk mencapai kemenangan. Tidak ada salah atau benar tentang strategi yang diterapkan, selama kemenangan dapat diraih.

Foto : AFP

Mourinho dan Sir Alex Ferguson sama-sama memiliki ego yang besar. Tanpa ego yang besar mereka tidak akan tumbuh sebagai pelatih hebat. Sekilas, keduanya memiliki gaya bermain yang bertolak belakang. Mou dengan sepakbola pragmatisnya, sedangkan Fergie dengan sepakbola menyerangnya yang atraktif. Terlepas dari perbedaan gaya bermain, sejarah membuktikan keduanya bisa sukses dengan rentetan gelar juara bergengsi.

“It is a disappointment for the game. He was terrific for football and terrific for Chelsea. I enjoyed the competition with him. He was something fresh and new to our game. I don’t know what I will do with my wine now. I wish him well.”

Sir Alex Ferguson, when Mourinho was sacked in 2007 (AFP)

Tentang siapa yang menampilkan sepakbola yang menarik, semua mungkin akan setuju dengan jawaban Alex Ferguson. Tapi siapa yang lebih hebat? Dalam sejarah pertemuan kedua pelatih, mereka telah bertemu dalam 16 kesempatan. Fergie dengan Manchester United-nya dan Mou dengan Porto, Chelsea, Inter Milan dan Real Madrid. Mou memenangkan tujuh diantarannya, sementara Fergie hanya sanggup menang dua kali (tiga jika kemenangan di adu penalti dihitung).

Bukan tanpa alasan jika melihat riwayat kedua pelatih saat bertanding, Ferguson beberapa kali menyanjung Mou. Keduanya bahkan sangat dekat, dan memiliki kebiasaan minum anggur seusai pertandingan, jika kesebelasan masing-masing bertemu. Tradisi itu pergi seiring pensiunnya Ferguson dari Manchester United. Tidak ada lagi jamuan pelatih tim yang menang yang harus membawakan anggur terbaik.

“I look at Jose and I see myself reflected in many of the things he does. In the first year at Chelsea when I saw him running along the touchline at Old Trafford, he reminded me of my first years at Aberdeen jumping, raising my arms, celebrating. We’re only human. We can’t hide our emotions. They’re always there, they’re part of who we are, of our character.”

Alex Ferguson in his Autobiography on Mourinho

Pendekatan Yang Berbanding Terbalik

Jika filosofi Fergie adalah menyuguhkan permainan menyerang yang menghibur. Mou tidak seperti itu, dia tidak mementingkan bagaimana cara yang harus dilakukan, yang penting kesebelasannya menang. Sesederhana itu.

Dengan filosofi permainan Mourinho yang berhati-hati. Kita sering melihat taktiknya pasif, ultra-defensif atau pendekatan ‘parkir bus’ dimana para pemainnya akan fokus di area pertahanan dengan tujuan menghindari kekalahan, menunggu serangan balik atau mempertahankan keunggulan.

Maka tidak jarang jika Mou terlihat sudah puas dengan keunggulan yang tipis. Makanya Mou selalu memiliki pemain-pemain bertahan yang sangat bagus. Lihat saja rekor kemenangan saat Mou juara bersama Chelsea di tahun 2014, seingat saya banyak skor menang 1-0 yang dicatatkan.

Foto : Getty Images

Di sisi lain, Ferguson selalu menampilkan permainan menyerang yang atraktif. Ia dikenal dengan kemampuan timnya untuk membalikan keadaan. Kala itu, para pendukung tidak terlalu khawatir apabila Manchester United tertinggal terlebih dahulu. Tahu-tahu skor akhir akan berakhir 3-2, 4-3, 2-1 untuk kemenangan United.

Bisa dibilang, lini pertahanan era Fergie tidak bagus-bagus amat. Buktinya Manchester United sering sekali kebobolan, tapi yang jadi catatan. Semangat bermain dan kreativitas serangan yang sangat hebat, membuat tim ini sering menang meski tertinggal lebih dulu.

Secara taktikal, Mou akan melakukan apa saja untuk meraih kemenangan. Sedangkan Fergie cenderung lebih setia dengan pakemnya. Mou bisa bermain terbuka, bermain keras, bermain defensif atau apapun itu agar timnya meraih kemenangan.

Fergie sendiri lebih identik dengan permainan terbuka, bagaimana ia sering mengambil resiko untuk menempatkan Vidic, Ferdinand atau O’shea sebagai penyerang tambahan jika timnya sedang tertinggal, seperti halnya yang sering kita lihat dengan Pique dengan Barcelona.

Foto : Getty Images

Keduanya hebat dalam perang urat syaraf. Mourinho bahkan seringkali sudah memenangkan pertarungan sejak di ruang konferensi pers sebelum pertandingan. Salah-salah manajer lawan terperangkap omongan yang di lontarkan oleh Mourinho. Pep pernah berujar, ruang media adalah arenanya Mourinho, tidak ada yang bisa mengalahkannya disana.

Ferguson pun juga sama. Dengan hanya menunjuk jam tangannya di menit perpanjang waktu, bisa membuat jatuh mental lawan. Bahkan saya masih ingat ketika Ferguson memainkan tujuh pemain bertahan saat menghadapi Arsenal, dan tetap memenangkan pertandingan 2-0. Kesan meremehkan yang dibawa Ferguson malah menyiksa tim asuhan Wenger.

Di pertandingan itu pula, Pogba lempar handuk untuk memperjuangkan posisinya di klub, karena Fergie lebih memilih memasang Rafael dibanding Pogba di pertandingan itu. Sebuah keputusan yang harus dibayar mahal.

Foto : Getty Images

Harga Mahal Sebuah Ego

Masih ingat bagaimana Sir Alex Ferguson yang harus dipecundangi Barcelona dalam dua final, tahun 2009 dan 2011? Disitulah ego Fergie membuat Manchester United harus menelan pil pahit gagal menjadi juara Eropa dalam dua final. Fergie sendiri yang mengakui, dalam buku Leading miliknya, bahwa seandainya saja ia lebih memilih meredam egonya dan kemudian menerapkan permainan bertahan melawan Barcelona saat itu, timnya akan bisa keluar sebagai juara.

Kita tahu sendiri, Fergie lebih memilih meladeni sepakbola terbuka Barcelona yang berakhir menyakitkan. Saat itu Barcelona dengan tim yang disebut-sebut tim terbaik sepanjang sejarah, mendominasi kedua final yang berakhir dengan skor 2-0 dan 3-1 untuk Barcelona. Pada akhirnya, Barcelona dan ego Fergie sendiri yang mengalahkannya. Bayangkan jika Fergie memilih untuk meredam egonya dan memainkan sepakbola bertahan. Mungkin sekarang Manchester United sudah memiliki 5 piala Liga Champions.

“Attack wins you games, defence wins you titles.”

Sir Alex Ferguson

Segala Cara Demi Melindungi Reputasi

Mourinho sendiri sebelum bergabung dengan Inter Milan, pernah beberapa kali menjalani wawancara dengan para petinggi Barcelona, sebagai calon pelatih baru menggantikan Frank Rijkaard. Petinggi Barcelona saat itu yakin kalau Mourinho dengan penjabarannya yang rinci dan visi yang luar biasa, akan membawa sukses bagi klub.

Hanya saja ada yang mengganjal, Mourinho selalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan dengan menekankan kata saya, bukan Barcelona. Mourinho dipandang terlalu menitikberatkan pada kesuksesan individu, bukan klub. Pada akhirnya para petinggi Barcelona tidak melanjutkan pembicaraannya bersama Mourinho. (Disadur dari tulisan dalipin)

Dengan ego terhadap diri sendirinya yang tinggi inilah, tidak jarang ia memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan pemain-pemain di klub-klub sebelumnya yang pernah ia latih. Tidak hanya dengan pemain, juga dengan staf, petinggi klub bahkan dengan pendukung itu sendiri. Alasan-alasan itulah yang membuatnya beberapa kali dipecat. Sekarang kita tahu sendiri, Mou tidak segan menyalahkan pihak lain secara terang-terangan. Siapapun akan ia salahkan, asal bukan dirinya sendiri.

Foto : AFP

Ego Mou pula yang membuatnya sangat takut akan kekalahan. Jika kalah ia tidak ingin disalahkan. Di beberapa pertandingan, ia terlihat tidak mencari kemenangan. Ia cukup puas dengan hanya memenangkan satu poin. Mourinho lebih mementingkan reputasi pribadi daripada klub itu sendiri.

Terakhir, Mou dengan egonya kembali berulah setelah United kalah oleh Sevilla 1-2.

“Saya duduk di kursi ini dua kali di Champions League dan saya menyingkirkan Man United di rumahnya, di Old Trafford.

“Saya duduk di kursi ini bersama Porto; Man United tersingkir. Saya duduk di kursi ini bersama Real Madrid; Man United tersingkir.

“Jadi saya pikir ini bukanlah hal yang baru bagi klub.”

Sesuatu yang sangat tidak pantas dikatakan oleh seorang manajer. Bagaimana bisa dia mempermalukan tim yang ia asuh di depan media? Terlepas itu sarkas atau bukan. Menjadikan klub sebagai tameng akan reputasinya.

Kalah di Liga Champions adalah satu hal, mempermalukan tim yang ia latih karena tersingkir di Liga Champions adalah hal lain yang lebih menyakitkan daripada sebuah kekalahan. M\

Mou sangat enggan mengambil resiko, berbeda dengan Fergie yang akan mengerahkan segalanya. Mungkin pikir Mou, satu poin lebih baik daripada tidak mendapat poin sama sekali. Sedangkan Fergie mungkin berpikir, ia akan mengerahkan segalanya untuk mendapatkan poin maksimal, sekalipun dengan resiko timnya akan makin jauh tertinggal apabila tidak hati-hati. Dia bermain hanya untuk menang dan menang. Meskipun diatas kertas, timnya tidak diunggulkan.

“I’ve never played for a draw in my life.”

Sir Alex Ferguson

Mental Pemain Selalu Dibahas Ketika United Kalah

Membahas mental pemain saat dilatih keduanya pun tidak elok jika berkata saat dilatih Ferguson semua pemain termotivasi, memiliki mental bertarung. Dan sebaliknya yang dikatakan untuk Mourinho. Sungguh tidak adil karena keduanya adalah seorang juara.

Bukan berarti kita harus melulu menjadikan Sir Alex Ferguson sebagai patokan setiap pelatih. Ingat, mereka memiliki gayanya sendiri-sendiri. Terkadang saat Mourinho menyalahkan pemainnya sendiri, ada benarnya. Karena sangat terlihat dengan para pemain yang tidak memiliki gairah bermain untuk Manchester United.

Wajar saja jika pelatih murka melatih pemainnya bermain dengan tidak semangat. Karena tim ini memiliki standar yang sangat tinggi, jika hendak bermain asal-asalan, lebih baik bermain untuk tim lain saja yang tidak terlalu menuntut hal itu.

Para pemain harusnya sadar, ketika mereka mengenakan baju merah dengan emblem sakral yang ada di dada, apa yang seharusnya mereka lakukan dan berikan untuk kesebelasan yang mereka bela.

Ratusan juta pasang mata di seluruh dunia, mengharapkan yang terbaik dari mereka. Seharusnya mereka tahu itu sejak pertama kali setuju bergabung dengan tim ini. Mental mereka harusnya sudah kuat dengan setuju bergabung dengan klub sebesar Manchester United dengan segala tekanan yang siap diberikan kepada pemain.

Tidak akan habis dalam satu tulisan untuk membicarakan keduanya dengan egonya masing-masing. Hanya saja, sebagai pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson masih jauh di atas Mourinho. Terlepas dari jumlah trofi yang keduanya berhasil rengkuh sama-sama fantastis.

Foto : The Independent

Mourinho harusnya sudah banyak belajar dari pengalaman-pengalamannya. Egonya tidak selalu membawa kemenangan. Dan dirinya tidaklah lebih besar dari klub ini.

Segala sesuatu dibatasi oleh hasil akhir dan kesabaran para pendukung kesebelasan ini. Apabila kesabaran habis karena tak kunjung memenuhi ekspektasi, mungkin Mou akan kembali mengulang tradisi seperti yang sudah-sudah di kesebelasan sebelumnya.

 

Diperbarui 15 Maret 2018.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya
  1. Kangen opa saf

  2. Rocky Rakun

    ada saatnya kita harus egois dan ada saatnya kita harus meredam ego kita sendiri.

  3. Inyong Adjis

    Keep support mou

  4. dhainie

    KEREN KEREN
    TERIMA KASIH MIN ,
    ENAK BACANYA
    APALAGI KUTIPANNYA
    BUKAN HANYA DALAM MELATIH YA
    MGKN DALAM KEHIDUPAN PRIBADI
    EGO YANG TINGGI SERING BERBUAH NOL

    SO … MASIH MENTINGIN EGO KAH?

Komentar ditutup.