Jose Mourinho: Sang Kreator dan Korban Propaganda

2.703

Minggu ini publik digemparkan dengan pemecatan Jose Mourinho dari kursi kepelatihan Manchester United. Manchester United memecat Jose Mourinho setelah 3 musim menunggangi Manchester United. Jose Mourinho dinilai tidak dapat mengangkat posisi Manchester United di Klasemen EPL dimusim ke-3 nya.

Mourinho juga dianggap memiliki gaya bermain yang monoton dan membosankan untuk dilihat. Dengan bermodalkan gaya counter attack, Mourinho banyak dikritik sejak musim pertama menjabat di Manchester United hingga akhirnya ia dipecat oleh manajemen MU.

‘Berburu Nakhoda’, MU memecat Mourinho

Bukan rahasia lagi jika Manchester United benar-benar seperti kehilangan seorang ayah kala Sir Alex Ferguson memilih pensiun pada tahun 2013.

Manchester United telah mengangkat setidaknya 3 pelatih untuk pengganti SAF. Namun, dari ketiga manajer tersebut tidak dapat memenuhi ekspetasi dan keinginan para fans Manchester United. ‘Berburu Nakhoda’ dimulai dari mengangkat David Moyes, Louis Van Gaal, hingga Jose Mourinho untuk menjadi manajer setan merah. Ketiga manajer tersebut saling silih berganti untuk menakhodai Mancester United. Akan tetapi, ujung dari kepemimpinan mereka tetap sama, yaitu pemecatan.

Sindrom atau Efek Samping Narkotika di tahun ke-3 kepelatihan Mourinho

Jose Mourinho memiliki suatu kebiasaan ketika melatih suatu klub di karirnya, yaitu posisi klasemen yang “hancur” di tahun ke-3. Entah mengapa, Mou dapat dengan mudah membawa klub nya menjadi juara di tahun pertama kepelatihannya, tetapi pada tahun ke-3 klub yg ditungganginya selalu mendapat “sindrom” yang dengan mendadak menjadikan klub tersebut terseok-seok pada posisi papan klasemen liga.

Mantan bek Manchester United, Rio Ferdinand jijik dengan sikap Mourinho yang selalu mengeluhkan keadaan di kubu setan merah saat ini.
Jose Mourinho/SkySports

Jose Mourinho layaknya sebuah obat narkotika yang dapat dengan mudah menyulap suatu klub menjadi berprestasi, tetapi memiliki “efek samping” yang buruk pada musim ke-3. Beberapa tim menjadi korban dari “sindrom” / “efek samping”.Dimulai dari Real Madrid, Chelsea, hingga Manchester United merasakan “kecanduan Mourinho”.

1 Trofi David Moyes, 1 Trofi LVG, Dan 3 Trofi Jose Mourinho

Jose Mourinho dapat dikatakan menjadi seorang terbaik kala pensiunnya SAF dari Manchester United. Ia kala dimusim pertama datang langsung memberikan 3 piala untuk Manchester United. Hanya dengan satu musim ia dapat menggeser prestasi LVG atau Moyes kala melatih Manchester United.

Source: Brfootball

Dengan perbandingan, Moyes “hanya” dapat memberikan 1 piala atau juara untuk Manchester United di 2 tahunnya ia menjabat manajer di Manchester United, Moyes juga hanya dapat memberikan “peninggalan” seperti Juan Mata dan Fellaini. Lalu, LVG “hanya” dapat memberikan 1 piala kala menjabat sebagai manajer di Manchester United. Akan tetapi, Mourinho dimusim pertamanya ia dapat memberikan 1 piala liga eropa, piala Liga Inggris, & piala Community Shield. Tentu hal tersebut suatu prestasi yang membanggakan dibanding 2 pelatih sebelum mourinho. Namun, hal tersebut bukan berarti dapat mengamankan posisi Mou di kursi pelatih, MU tidak mencari pelatih ‘one season wonder’, tetapi mencari ‘dinasty’ dan Mourinho gagal memenuhi ‘dinasty’ yang diminta oleh manajemen MU.

Rasio Kemenangan Mourinho dengan Bandingan pelatih EPL lainnya

Selama Mourinho melatih MU, ia telah menjalani 144 pertandingan bersama anak asuhnya. Ia menorehkan 84 pertandingan menang, 29 kali kalah, dan 31 kali seri. Dalam bentuk persentase, Mourinho hanya dapat membuat 58,3% kemenangan dari seluruh pertandingan yang dilakoninya. Hasil tersebut telah menurun dibandingkan ketika ia melatih Real Madrid (71,9%) dan Chelsea (58,8%). Meskipun hasil tersebut menurun, tetapi Mourinho masih lebih baik daripada David Moyes (52,94%) ataupun LVG (52,43).

Source: bein sport

Mungkin 58,3% rasio kemenangan Mourinho tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan Jurgen Klopp (56,4%) atau Pochettino (56,4%). Akan tetapi, banyak yang berspekulasi bahwa Mourinho dipecat bukan karena persentase kemenangan yang diraihnya, tetapi karena gaya “parkir bus” yang membuat banyak fans yang muak melihatnya.

Mourinho “undercover” yang Dilupakan Banyak Fans

LVG dengan gaya ‘tiki taka’ nya selama ia melatih 2 musim Manchester United hanya dapat mendapatkan maksimal 69 poin. Kemudian David Moyes, ia hanya dapat memperoleh maksimal 64 poin pada tahun 2014. Lalu siapa yang mengira jika ternyata hanya ketika era Mourinho MU dapat memperoleh hingga 81 poin setelah pensiunnya SAF?. Jose Mourinho bahkan membawa Manchester United menjadi runner up klasemen liga inggris yang tidak dapat dilakukan oleh dua manajer sebelumnya.

Source: Brfootball

Jose Mourinho juga “hanya” mengeluarkan £365 juta dan membawa 3 piala untuk Manchester United. Sebagai perbandingan, Liverpool dibawah asuhan Jurgen Klopp telah menghabiskan sekitar £465 juta yang sama sekali tidak menghasilkan 1 trofi pun, tetapi Jurgen Klopp tetap menjadi manajer Liverpool dan Mourinho yang telah menghasilkan 3 piala harus kehilangan pekerjaannya.

Banyak yang tidak menyadari bahwa Mourinho telah membawa banyak pemain “kualitas A” yang sebelumnya tidak pernah ada. Jose Mourinho dengan pengeluaran £365 juta telah mengangkut setidaknya 8 pemain baru Manchester United. Berikut daftar pemain yang diangkut di era Mourinho:

PemainHarga transfer
Henrikh Mkhitaryan£37,8 Juta
Eric bailly£31 + £3,2 Juta
Zlatan IbrahimovicGratis
Victor Lindelof£31,5 Juta
Paul Pogba£89 + £5 Juta
Romelu Lukaku£76,2 Juta
Alexis SanchezTukar tambah dengan Mkhitaryan
Nemanja Matic£40,2 Juta

Dengan transfer yang telah dilakukan oleh Mourinho, MU setidaknya sedikit memperbaiki skuad yang telah ada. Hal tersebut berbanding terbalik jika dibandingkan dengan Manchester City. Pep Guardiola setidaknya telah menghabiskan dana sekitar £656 Juta dan membawa 13 pemain yang berkualitas (Bravo, Ederson, Mandy, Stone, Laporte, Walker, Danilo, Mahrez, Bernardo Silva, Gundogan, Jesus, & Nolito). Padahal, Manchester City meskipun seandainya tidak membuat transfer, mereka telah memiliki pemain dengan kualitas yang luar biasa dibandingkan MU sebelum transfer yang dilakukan oleh Mourinho. Manchester City tanpa transfer “gila” telah memiliki pemain seperti De Bruyne, Aguero, & David Silva dan MU tanpa transfer yang dilakukan Mourinho “hanya” memiliki pemain kualitas seperti Smalling, Fellaini, & Jones.

Mourinho Adalah Korban “Kegilaan” Media Inggris

Mourinho seperti menjadi santapan para wartawan. Apapun yang terjadi pada Manchester United, media akan memberitakan hal tersebut tiada henti. Seluruh mata akan tertuju pada Manchester United khususnya pada Jose Mourinho. Tidak heran jika media lebih suka “menggoreng” isu lama Manchester United daripada meliput “kebobrokan” tim lainnya mengingat bahwa sekitar 5% penduduk dunia merupakan fans Manchester United.

LONDON, ENGLAND – MAY 22: Jose Mourinho leaves his home on May 22, 2016 in London, England. Mourinho is rumoured to be in line to replace Louis van Gaal as manager of Manchester United. (Photo by Jack Taylor/Getty Images)

Media seolah-olah lupa dengan 0 trofi Liverpool dan lebih memilih meliput deretan “draw” Mourinho. Media seakan-akan lupa bahwa skuad Manchester United yang diwariskan kepada Mourinho sangat “bobrok” dibandingkan skuad Manchester City yang diwariskan kepada Pep Guardiola. Mourinho benar-benar menjadi pusat perhatian kala menuai hasil tidak memuaskan dan dilupakan kala mendapatkan 81 poin yang tertinggi dibanding dengan dua manajer sebelumnya. Mourinho seperti berada di ujung tanduk meskipun telah membawa beberapa prestasi yang tidak terlihat dan sedikit lebih baik dibanding beberapa manajer lainnya.

Propaganda Manajemen Dengan Mengorbankan Mourinho

Rahasia umum jika Mourinho sangat ngidam bek Leicester City, yaitu Harry Maguire. Mourinho bahkan beberapa kali menyindir manajemen “pelit” yang tidak menuruti apa yang diminta Mourinho. Bahkan, karena sindiran tersebut juga hubungan Mourinho dengan pihak manajemen sedikit memanas. Manajemen seakan-akan puas dengan bek dengan kaliber seperti Smalling, Jones, ataupun Rojo dan tidak berminat mendatangkan bek yang “sedikit berkualitas”.

Phil Jones (kiri) bersama Chris Smalling (kanan)

Mourinho tidak dapat mengangkat posisi Manchester United dipapan klasemen dengan bek kualitas “seadanya” tersebut. Fans pun ikut memanas, mayoritas suporter Manchester United menganggap bahwa kesalahan utama terletak pada manajemen yang tidak membeli bek yang diminta oleh Mourinho. Jika diamati secara mendalam, kebanyakan gol yang terjadi adalah kesalahan para bek MU. tidak hanya satu, bahkan beberapa bek MU setidaknya telah membuat satu blunder yang berujung menjadi gol.

Liverpool v Manchester United – Premier League
LIVERPOOL, ENGLAND – JANUARY 17: Man Utd Chief Executive Ed Woodward looks on during the Barclays Premier League match between Liverpool and Manchester United at Anfield on January 17, 2016 in Liverpool, England. (Photo by Simon Stacpoole/Mark Leech Sports Photography/Getty Images)

Pada tahun 2018 awal adalah puncak memanasnya Mourinho dan pihak manajemen. Manajemen benar-benar ingin mendepak Mourinho secepatnya dari kursi kepelatihan Manchester United. Namun, hal tersebut tidak semudah membalikan tangan, Mourinho kala itu masih diberi kesempatan dan bahkan dapat mengalahkan Juventus di Italia.

Mourinho mulai kehilangan kepercayaan dari pendukung ketika kalah 2-1 oleh Valencia di liga Champions. Lalu, Mourinho benar-benar tidak dipercaya kembali ketika Manchester United dilibas 3-1 oleh Liverpool di Anfield. Manajemen MU tidak membuang sia-sia kesempatan tersebut, pendukung yang pada awalnya sangat membenci Ed Woodward bahkan meminta Ed untuk mundur tiba-tiba berbalik arah dengan meminta Jose Mourinho untuk dipecat. Ed benar-benar beruntung kala ingin memecat Mourinho, ia setidaknya telah didukung dengan propaganda para media yang memojokan bahwa Mourinho dengan mengatakan bahwa Mou bukan orang yang tepat untuk suksesor SAF. Lalu hal itu terjadi, Mourinho dipecat dan setidaknya membuat suporter “tertidur” kembali. Ed dan jajaran manajemen lainnya setidaknya telah memecat 3 pelatih yang tidak cocok dengan gayanya. Ed Woodward telah “mencuci tangan” dari kesalahan dan kepelitannya demi bisnis dengan menumbalkan Mourinho untuk dipecat. Lalu sekali lagi, Ed Woodward kembali siap untuk “duduk manis” dan mencari “korban” selanjutnya.

Selamat tinggal Jose Mourinho, terima kasih untuk segalanya di Manchester United. Semoga engkau dapat sukses kembali di klub/negara lainnya.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya

Komentar ditutup.