Obsesi Bodoh Inggris Dan Bakat Yang Dihinakan

7.556

Bernilai Seperti Anggur dan Menari Seperti Rolls-Royce

Ada sebuah kutipan yang cukup familiar “like wine, the older the better” atau bisa diartikan “seperti anggur, makin tua makin bagus”. Pepatah tersebut tidak salahnya jika kita sematkan kepada seorang pesepakbola. Ibrahimovic pernah berkata demikian tentang dirinya sendiri. Wajar saja, karena ia seorang dengan ego yang besar.

Richard Heathcote/Getty Images

Dulu Scholes juga seperti itu, bahkan ketika kembali dari pensiunnya tidak terlihat penurunan kualitas yang kentara. Fergie dibuat pusing mencari pengganti Scholes saat ia pensiun karena belum menemukan sosok yang tepat. Ia ‘dipaksa’ kembali merumput. Tidak sia-sia, trofi Premier League kembali direngkuh.

Scholes jelas tidak bekerja sendiri di lini tengah. Ada satu nama yang selalu luput dari sorotan atau penilaian orang-orang.

“Dalam enam tahun terakhir di klub dia benar-benar bagus, salah satu pemain yang dipandang sebelah mata yang pernah bermain di Premier League.” Ucap Scholes, 2012 silam.

“Saya selalu merasa nyaman bermain bersamanya. Dia bisa melakukan segalanya, membuat peluang, mencetak gol, dia seorang pengumpan yang hebat dan pria kuat yang sanggup berlari seharian.

“Untuk menjadi gelandang tengah di klub ini kamu harus penuh tanggung jawab, mengambil bola sepanjang waktu, bertahan pada waktunya dan selalu siap membantu tip untuk mencetak gol dan memenangkan pertandingan. Ia melakukan semua itu.

“Tidak ada pemain yang lebih baik dalam bermain sederhana ketika memegang bola

“Dia membawa ketenangan di pertandingan, dan berkeliling di lapangan seperti Rolls-Royce.” Puji Scholes setinggi langit.

Scholes salah satu gelandang terbaik yang pernah Inggris lahirkan, memuji rekan setimnya setinggi langit yang tak lain dan tak bukan adalah Michael Carrick.

Inggris Meremehkan Seorang Carrick

Matthew Peters/Man Utd via Getty Images

Di level klub, melihat catatan bermain untuk Manchester United. Scholes mencatatkan 499 pertandingan selama 19 musim bermain di tim utama. Carrick memiliki jumlah pertandingan yang tidak kalah banyak, 322 pertandingan dengan 7 musim lebih sedikit dari Scholes.

Perbedaan mencolok sangat terlihat begitu kita membandingkan di level Internasional. Bagi Timnas Inggris, Scholes hanya bermain 8 musim, sebelum memutuskan pensiun di tahun 2004, tapi mencatatkan 66 pertandingan. Sedangkan Carrick bermain selama 15 musim untuk Timnas Inggris, terhitung sejak debutnya di 2001 sampai terakhir kali bermain tahun 2015 silam, dan hanya mencatatkan 34 penampilan saja.

Carrick berperan besar mengawal lini tengah Manchester United selama bertahun-tahun berpasangan dengan Scholes. Total 18 trofi ia bukukan selama membela Manchester United sampai saat ini.

Lantas, apa yang membuatnya kurang berperan di level Internasional?

Manajer-Manajer Inggris dan Obsesi Bodoh Mereka

Mari kita sebutkan manajer-manajer Inggris yang menukangin Tim Tiga Singa sejak 2001, tahun di mana Carrick memulai debutnya.

Ada Sven-Goran Eriksson, Steve McClaren, Fabio Capello, Roy Hodgson, Sam Allardyce sampai Gareth Southgate yang sedang menjabat saat ini.

Lupakan Big Sam dan Southgate, karena anggaplah Inggris sudah tidak pantas menerima Carrick setelah bertahun-tahun ia dihinakan. Lagipula, ia sudah melewatkan masa-masa puncak permainannya.

Kalaulah Eriksson dan McClaren terlalu awal bagi Carrick untuk ke Timnas pada saat itu, tentulah adil. Pada saat itu bisa dibilang, masa di mana generasi terbaik Inggris bermain. Sebut saja Neville bersaudara, Ashley Cole, Gerrard, Terry, Beckham, Scholes, Rooney, Owen, Lampard, Carragher dan pemain lainnya.

AP via Daily Mail

Obsesi apa yang menjadi bumerang bagi Timnas Inggris sendiri? Menduetkan Frank Lampard dan Steven Gerrard di lini tengah. Lampard dan Gerrard adalah gelandang yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya, tapi memaksakan mereka bermain bersama dalam formasi 4-4-2 selama bertahun-tahun lamanya adalah obsesi yang bodoh.

Dengan gaya main yang bisa dikatakan hampir mirip, memainkan keduanya malah menimbulkan ketidakseimbangan dalam tim. Inggris terlalu keras kepala dengan 4-4-2nya. Lihat saja isi skuad di atas dengan Lampard, Gerrard dan Scholes pada Euro 2004. Siapa yang menjadi korban karena obsesi tadi? Scholes.

Bayangkan, Seorang Paul Scholes harus rela bermain di sayap kiri selama turnamen hanya karena Manajer Inggris saat itu ‘kekeuh’ ingin menduetkan Gerrard dan Lampard di lini tengah. Pada akhirnya, Scholes memutuskan pensiun dari Timnas Inggris menyusul perlakuan yang diterimanya.

Anggaplah Carrick pantas mengisi lini tengah Timnas Inggris pada gelaran Euro 2008, Piala Dunia 2010, Euro 2012 dan Piala Dunia 2014 karena ia membantu Manchester United meraih banyak trofi. Tapi apa? Jelas Inggris tidak lolos ke Euro 2008, di turnamen-turnamen setelah itu, Gerrard dan Lampard masih saja menjadi pilihan utama di skuad Inggris.

Lampard Akui Dirinya dan Gerrard Tidak Maksimal

BBC

Dalam sesi wawancara dengan Sky Sports pada 2014, Lampard berkata: “Masalah terbesar kami adalah ketika masa puncak kami bersama Chelsea dan Liverpool, Gerrard menonjol dan mendominasi dan saya pun rutin mencetak gol.

“Orang-orang menginginkan hal yang sama di Timnas Inggris.

“Saya akan jujur saja, dan Gerrard akan berkata hal yang sama, kita tidak tampil maksimal di Timnas Inggris. Saya tidak tahu karena alasan apa. Saya juga tidak berpikir bahwa kita tidak bisa bermain bersama. Saya hanya berpikir ada waktu dalam karir kami bersama Inggris di mana kami tidak bisa mengeluarkan yang terbaik sebagai tim.”

Obsesi Itu Mati, Tapi Carrick Masih Dipandang Sebelah Mata

Manajer-manajer Inggris terlalu keras kepala sehingga malas untuk bercermin pada sejarah kalau formasi dan obsesi yang mereka mainkan itu adalah kesia-siaan. Inggris tidak pernah menghasilkan apa-apa selama periode itu bahkan sampai sekarang.  Bukan trofi yang menjadi oleh-oleh pulang ke tanah Inggris, melainkan rasa malu yang terus-menerus menjadi buah tangan setiap pulang dari gelaran turnamen.

Getty Images via Standard

Bahkan ketika Gerrard dan Lampard sudah mulai memudar, malah Scott Parker dan Jordan Henderson yang menjadi pelapis. Carrick sama sekali tidak dimasukkan ke dalam skuad Inggris di Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, dan itu adalah sebuah bentuk penghinaan.

Carrick tidak pernah dihargai dan dihormati oleh manajer-manajer Inggris, hal ini dikatakan langsung oleh Rio Ferdinand. Ferdinand berkata bahwa Carrick adalah tipe pemain yang Inggris butuhkan dalam satu decade terakhir, umpan lambung cepatnya akan menjadi anugerah bagi rekannya terutama di lini depan. Sayang, Carrick dinilai sebelah mata.

Carrick ialah Carrick, seorang yang tidak banyak bicara ataupun mengeluh meskipun ketidakadilan menimpanya. Cukuplah kenyataan yang berbicara bagaimana bakat seorang Carrick dihinakan. Melihat bahwa seorang Jordan Henderson, seorang gelandang yang mencatatkan 55% penyelesaian umpan dalam sebuah pertandingan di level klub, menjadi kapten Timnas Inggris saat ini.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Berita Menarik Lainnya

Komentar ditutup.