Menilik Tujuan Terselubung Pemanggilan Akun Sosmed oleh lembaga si “Itu”

177

Ini adalah sebuah penggalan cerita dari sebuah novel fiktif. Cerita ini dimulai ketika salah satu lembaga bernama Si “Itu” di sebuah negara bernama Nesiaindo. Lembaga bernama Si “Itu” akhirnya tersangkut kasus kejahatan yang panjang dan melelahkan. Lalu disinilah cerita dimulai. Si “Itu” saat ini fokus untuk menyelesaikan kasus “mafia bola” yang telah berakar di Nesiaindo. Salah satu langkah yang dilakukan oleh si “Itu” adalah memanggil para pemilik akun dibeberapa platform sosial media.

Mengutip sumber p*s*.org, setidaknya puluhan lintas platform sosial media telah dipanggil oleh Komite Disiplin si “Itu”. Pemilik platform yang diundang oleh si “Itu” dimulai dari twitter, youtube, dan instagram. Alasan si “Itu” adalah para pemilik akun ini telah mengetahui dugaan pengaturan skor di Nesiaindo. Rencananya, para pemilik akun akan diundang oleh komdis si “Itu” pada bulan Desember ini di Rasuna Office Park di daerah ibukota besar Nesiaindo.

Para Pemilik Platform adalah Saksi Kunci yang Harus Dilindungi

Pemilik akun sosial media lintas aplikasi ini telah menjadi penghubung antara suporter dan para mafia. Para pemilik akun sosmed mungkin saja dapat mempertaruhkan nyawa mereka demi para suporter untuk mendapatkan informasi “jernih”. Entah darimana mereka mendapatkan informasi yang sangat transparan di negara Nesiaindo ini.

Komdis si “Itu” setidaknya telah mengundang 25 akun sosial media di Nesiaindo. Para pemilik akun tersebut rencananya akan diundang pada tanggal 29-30 Desember. Berikut daftar para pemilik akun yang akan diundang oleh komdis si “Itu”:


Tanggal 29 Desember 2018Platform
@footballnesiaTwitter
@Factasia Football Youtube
@siorangdalamInstagram
@garudarevolutionInstagram
@kita.sepakbolaInstagram
@kepoballInstagram
@beritatimnas.idInstagram
@caption_bolaInstagram
@fans_bola_nasionalInstagram
@lingkar.garudaInstagram
@mafiawasitTwitter
@m.rusdaiInstagram
@Marai TumanYoutube
Tanggal 30 Desember 2018Platform
@MixedZoneClubeTwitter
@rotitv_Instagram
@timnas.indonesiaInstagram
@seputar_bolaInstagram
@seputargarudaInstagram
@uberjakmaniaTwitter
@Genyo TVYoutube
@darmanfauziii05Twitter
@garuda_mediaInstagram
@itsdhayInstagram
@pakarbolaindonesiaInstagram
@pengamatsepakbolaInstagram

Kasus Mafia Bola Adalah Rahasia Umum Sejak 90′ an, Mengapa Baru Dipanggil Saat Ini?

Entah mengapa, kasus para mafia yang telah terkenal sejak 90′ an hingga saat ini baru “ingin” diungkap oleh komdis si “Itu”. Beberapa kemungkinan mungkin telah menjadi penyebab si “Itu” berani mengurus para mafia dengan memanggil para pemilik akun sosial media. Dari memang ingin menyelesaikan kasus para mafia atau hanya sekadar abang-abang lambe (sekadar basa-basi).

Menurut pendapat salah satu akun yang dipanggil oleh komdis si “Itu”, liga Nesiaindo sebenarnya telah dimonopoli oleh para mafia sejak tahun 92′. Bukti dari permainan monopoli tersebut adalah siapapun tim yang menjadi juara, pasti ada pemilu di kota/kabupaten atau provinsi tersebut (terkecuali beberapa tahun terakhir). Dengan hal tersebut yang terjadi selama bertahun-tahun, mengapa lembaga si “Itu” tidak bertindak? Apa yang ada dipikiran mereka? Apa yang ada di pandangan si “Itu” mengenai hal itu? Hanya sebuah kebetulan belaka? Atau telah mengerti tetapi berpura-pura tidak tahu?

Pemilihan Kepengurusan si “Itu” hanya dengan “Arisan” dan “Menang Duit”

Sejak tahun 90’an, para pengurus si “Itu” setidaknya hanya sekelompok orang yang tetap dari tahun ke tahun. Para petinggi si “Itu” tidak ada yang berubah, bahkan posisi pada si “Itu” pun tidak digoyahkan.

Mengambil contoh bung JD. Ia menjadi salah satu petinggi klub SiJaper di salah satu ibukota negara Nesiaindo. Bung JD telah menjadi pengurus si “Itu” sejak tahun 90’an, ia telah menjadi salah satu orang penting di si “Itu” meskipun telah banyak berganti ketua si “Itu”. Bung JD telah menjadi “anak emas” yang tak tergantikan di kepengurusan si “Itu”. Ia bahkan mengetahui bahwa setiap pertandingan sepakbola di Nesiaindo setidaknya terkucur dana Rp70M diantara para mafia untuk permainan monopoli sepakbola.

Pertanyaan dari banyak kalangan pun muncul, jika memang bung JD mengetahui permainan para mafia hingga total kucuran dana tiap pertandingan, mengapa bung JD tidak dapat memberantas para mafia? Apakah bung JD tidak memberitahukan informasi tersebut kepada bagian komdis si “Itu”? Lalu mengapa bung JD tetap “betah” menjadi pengurus si “Itu” sejak tahun 90′ an? Siapa yang memilih bung JD tiap 5 tahun sekali sejak 90’an hingga saat ini di kepengurusan si “Itu”?

Maksud Terselubung Dari si “Itu” untuk Mengundang Pemilik Akun Sosial Media

Mungkin maksud yang tampak adalah lembaga si “Itu” ingin membersihkan liga Nesiaindo dengan mencari informasi lebih dalam dari kesaksian/informasi dari pemilik akun-akun yang dipanggil. Namun, bagaimana jika diselisik lebih dalam? Yakinkah maksud mereka adalah membersihkan?

Dengan sedikit skeptis, beberapa kemungkinan dan maksud tersembunyi mungkin saja telah direncanakan. Berikut beberapa kemungkinan dari alasan pemanggilan para pemilik akun sosial media:

Bagaimana jika sebenarnya lembaga si “Itu” memiliki tujuan untuk bermain lebih halus di lain waktu?

Analogi sederhananya seperti ini.
Seorang ahli bangunan bernama Edi sedang membangun tembok. Tembok tersebut tidak dibangun dengan sempurna yang masih berlubang, karena itu ia diberitahu oleh pejalan kaki bernama Admin bahwa dibalik tembok yang Edi bangun ada pencuri bernama Jungkok Lingkok Mangkok (JLE) dan Jungkok Darmono (JD). Lalu Edi didepan Admin pun akhirnya berterima kasih karena telah diberitahu tentang para pencuri tersebut. Edi mengatakan akan menangkap sang pencuri dan membawa ke kantor polisi terdekat. Namun setelah Admin pergi, bung Edi tidak menangkap pencuri dibalik tembok tersebut, tetapi ia malah menutup lubang yang diketahui oleh Admin agar apa yang dilakukan oleh pencuri tidak diketahui Bung Admin kembali. Bung Edi tidak menangkap sang pencuri karena ia tahu bahwa sebenarnya sang pencuri adalah teman bung Edi, jadi ia menutupi kejahatan pencuri tersebut dengan berpura-pura berterima kasih pada Admin
Permainan mafia adalah bisnis, bagaimana jika para admin dibungkam?

Analogi sederhananya seperti ini.
Bung Edi seorang ahli bangunan. Bung edi telah membangun tembok yang kokoh. Bung Edi akhirnya sengaja mengundang para tetangga untuk menyaksikan kokohnya tembok yang dibangun Edi. Akan tetapi, tiba-tiba seorang tetangga bernama Admin bicara “Tembok itu rapuh! Tembok itu telah dikorupsi!”. Bung Edi akhirnya terkejut, lantas ia akhirnya mengundang tetangganya tersebut pada bulan desember 2018. Bung Edi lalu berbisik kepada sang admin, “Kalau kamu masih ingin selamat, jangan teriak-teriak tembok ini rapuh. Mengerti?” . Lalu, sang Admin akhirnya sadar bahwa Bung Edi adalah si tukang korupsi yang dimaksud, akhirnya bung Admin tidak berbicara pada tetangga tentang tembok itu kembali.
Memanggil para pemilik akun dan mengorbankan oknum mafia

Analogi sederhananya seperti ini.
Ada seorang pengurus tim bernama Joko Darmono. Bung Joko sebenarnya adalah seorang pencuri di perumahannya. Disuatu waktu, perumahan tersebut terjadi kasus pencurian dan bung Joko adalah salah satu pelakunya. Bung Joko sangat ketakutan, tetapi ia memiliki ide licik. Daripada ia tertangkap oleh para warga, ia akhirnya memanggil para warga dan bertanya, “Bagaimana ciri-ciri pelaku pencurian?” . Akhirnya salah satu warga bernama Admin menjawab semua ciri-ciri nya. Bung Joko pun senang, karena ia dapat secepatnya menghapus seluruh bukti yang mengarah ke dirinya. Ia akhirnya menyisahkan bukti yang mengarahkan hanya pada temannya, yaitu Joni Londo Engkel atau disebut JLE. Bung Joko akhirnya secepat mungkin membawa temannya JLE yang disebutkan oleh Admin ke kantor polisi. Bung Joko berpikir bahwa, “Daripada aku tertangkap, lebih baik aku mengorbankan temanku JLE. Maka aku akan aman”. Lalu akhirnya bung Joko mengorbankan temannya dan kasus pencurian ditutup. Ia tidak dicurigai dan bebas kembali.

Yap, begitulah cerita dan kemungkinan yang terjadi dari penggalan cerita novel fiktif tersebut. Terkadang beberapa nama dalam novel tersebut memiliki kemiripan di dunia nyata. Namun, dari kemiripan tersebut tidak ada kesengajaan. Semoga penulis diampuni dari keterbukaan isi penggalan Novel fiktif tersebut dan semoga sobat MUW tidak menggunakan ilmu cocoklogi dari penggalan novel fiktif tersebut dengan cerita asli di negara kita yang bersih ini.

Terima kasih.

Jangan sampai ketinggalan berita terbaru. Subscribe sekarang!

Komentar ditutup.